<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dr Ariefallergy</title>
	<atom:link href="http://www.drarief.com/tag/allergy/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.drarief.com</link>
	<description>Now Serving Online</description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Dec 2011 05:39:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>The Scary Anaphylactic Story&#8230;</title>
		<link>http://www.drarief.com/the-scary-anaphylactic-story/</link>
		<comments>http://www.drarief.com/the-scary-anaphylactic-story/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 01:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dr. Arief L. Hakim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi Untuk Pasien]]></category>
		<category><![CDATA[Perlengkapan Praktek]]></category>
		<category><![CDATA[allergy]]></category>
		<category><![CDATA[anafilaksis]]></category>
		<category><![CDATA[anafilaktik]]></category>
		<category><![CDATA[anaphilactic]]></category>
		<category><![CDATA[anaphylaxis]]></category>
		<category><![CDATA[diagram]]></category>
		<category><![CDATA[doctor]]></category>
		<category><![CDATA[dokter]]></category>
		<category><![CDATA[injection]]></category>
		<category><![CDATA[panduan]]></category>
		<category><![CDATA[penatalaksanaan]]></category>
		<category><![CDATA[renjatan]]></category>
		<category><![CDATA[shock]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://drarief.com/2008/07/15/the-scary-anaphylactic-story/</guid>
		<description><![CDATA[Dear para rekan-rekan dokter dan juga para koass (&#8220;kok aku selalu salah&#8220;&#8230; ?) berikut ada &#8220;sekelumit&#8221; makalah tentang shock anafilaksis yang sering menghantui para dokter. Makalah ini saya kumpulkan dari beberapa kepustakaan, untuk kepentingan penulisan di format blog ini saya tidak mencantumkan narasumber dari berbagai kepustakaan yang saya buat, tapi bila ada yang ingin tahu, [...]<p><a href="http://www.drarief.com/the-scary-anaphylactic-story/">The Scary Anaphylactic Story&#8230;</a> is a post from: <a href="http://www.drarief.com">Dr Arief</a></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 100%; font-family: georgia;"><br />
</span><span style="font-size: 100%; font-family: times new roman;">Dear para rekan-rekan dokter dan juga para koass (</span><span style="font-style: italic; font-size: 100%; font-family: times new roman;">&#8220;kok aku selalu salah</span><span style="font-size: 100%; font-family: times new roman;"><span style="font-style:italic;">&#8220;</span>&#8230; ?) berikut ada &#8220;sekelumit&#8221; makalah tentang shock anafilaksis yang sering menghantui para dokter. Makalah ini saya kumpulkan dari beberapa kepustakaan, u</span><span style="font-size: 100%; font-family: georgia;">ntuk kepentingan penulisan di format blog ini saya tidak mencantumkan narasumber dari berbagai kepustakaan yang saya buat, tapi bila ada yang ingin tahu, silakan email saya ntar insya Allah saya balas dgn kepustakaannya. Saya juga </span><span id="more-9"></span><span style="font-size: 100%; font-family: georgia;">membuat </span><span style="font-size: 100%; font-family: times new roman;">flowchart yang insya Allah bermanfaat bagi rekan-rekan. Silakan mengcopy buat yang memerlukan.</span></p>
<p><span style="font-size: 100%; font-family: times new roman;">SEJARAHNYA ANAFILAKSIS kira-kira begini (saya agak lupa dapat kepustakaanya di mana). Kata-kata &#8220;anafilaksis&#8221; pertama kali ditemukan oleh dua orang ilmuwan bernama Portier dan Richet pada tahun 1902 pada saat memberi vaksinasi pada anjing yang berakhir dengan kematian. Respon yang diharapkan dengan vaksinasi tersebut adalah profilaksis, akan tetapi yang terjadi adalah lawannya, sehingga disebut anafilaksis, artinya tanpa proteksi.</span></p>
<p><span style="font-size: 100%; font-family: times new roman;">ANAFILAKSIS ADALAH SUATU REAKSI ALERGI SISTEMIK AKUT YANG BERAT yang berpotensi menjadi fatal dan dapat berakhir dengan kematian. Anafilaktik memiliki onset yang cepat disertai dengan keterlibatan banyak sekali sistem organ, dan disebabkan oleh suatu antigen yang spesifik pada individu yang sensitif. Reaksi anfilaktik biasanya fase tunggal, namun 20% dari kasus yang terjadi dilaporkan bifasik&#8230; artinya reaksi susulan mungkin akan terjadi pada 1 &#8211; 8 jam kemudian, menyusul serangan fase yang pertama diselingi suatu fase laten asimtomatik. Canggihnya lagi ada yang terjadi setelah 24 jam. </span></p>
<p><span style="font-size: 100%; font-family: times new roman;">Penggunaan ß-blocker pada saat yang bersamaan dapat mengganggu respon terhadap penatalaksanaannya. Terapi pilihan masih &#8220;dijabat&#8221; oleh Epinefrin, sehingga harus diberikan segera. Penanganan sekundernya adalah maintenance ABC (airway, breathing, circulatory support), antagonis H</span><span style="font-size: 100%; font-family: georgia;"><sub>1</sub></span><span style="font-size: 100%; font-family: times new roman;"> &amp; H</span><span style="font-size: 100%; font-family: georgia;"><sub>2</sub></span><span style="font-size: 100%; font-family: times new roman;">, kortikosteroid, (kadang-kadang) bronkodilator juga diperlukan. Yang tak kalah pentingnya adalah observasi pasca serangan. Pasien harus mudah diakses dalam jangkauan perawatan emergency selama 48 jam kemudian.</span></p>
<p>DALAM MENEGAKKAN DIAGNOSIS ANAFILAKSIS diperlukan adanya suatu reaksi alergi sistemik yang berat. Sejauh ini tidak ada suatu definisi yang diterima secara universal karena anafilaksis terdiri dari <span style="font-weight:bold;">sekumpulan gejala</span>. Namun, ada sebuah diagnosa kerja yang baik, dipakai pleh program pengawasan pediatri di Kanada; yang menjabarkan anafilaksis sebagai &#8220;<span style="font-style:italic;">suatu reaksi alergi berat terhadap stimulus apapun, memiliki onset yang tiba-tiba, biasanya berlangsung kurang dari 24 jam, menyangkut satu atau lebih sistem organ dan menghasilkan satu atau lebih gejala seperti gatal-gatal, kemerahan, angioedema, stridor, wheezing, napas yang pendek, mual, muntah, diare, dan shock.</span>&#8221;</p>
<p>&#8220;PENAMPAKAN&#8221; KLINIS anafilaksis bervariasi, dengan tanda dan gejala klinisnya dapat di lihat pada tabel berikut.</p>
<p><span style="font-weight: bold; font-size: 100%; font-family: georgia;">Fitur-fitur Anafilaksis :<br />
Neurologi</span><span style="font-size: 100%; font-family: georgia;"><br />
Dizzy (</span><span style="font-style: italic; font-size: 100%; font-family: georgia;">nge-fly</span><span style="font-size: 100%; font-family: georgia;">), lemas, syncope, kejang<br />
</span><span style="font-weight: bold; font-size: 100%; font-family: georgia;"><br />
Okular</span><span style="font-size: 100%; font-family: georgia;"><br />
Pruritus, injeksi konjungtival, lakrimasi</span></p>
<p>Saluran Napas Atas<br />
<span style="font-size: 100%; font-family: georgia;">Kongesti nasal, bersin, stridor, edema orofaring atau laring, batuk, obstruksi saluran</span></p>
<p><span style="font-weight: bold; font-size: 100%; font-family: georgia;">Saluran Napas Bawah<br />
</span><span style="font-size: 100%; font-family: georgia;">Dispneu, bronchospasme, takipneu, penggunaan otot-otot pernapasan tambahan (accessory muscle), sianosis, apneu oh&#8230;. <img src='http://www.drarief.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' /> ~~~</span></p>
<p><span style="font-weight: bold; font-size: 100%; font-family: georgia;">Kardiovaskuler</span><span style="font-size: 100%; font-family: georgia;"><br />
Takikardi, hipotensi, aritmia, miocard iskemia / infarct, cardiac arrest ohhh&#8230;. mati deh</span></p>
<p><span style="font-weight: bold; font-size: 100%; font-family: georgia;">Kulit</span><span style="font-size: 100%; font-family: georgia;"><br />
Flushing, urtikaria, eritema, pruritus, angioedema, rash makulo papular</span></p>
<p><span style="font-weight: bold; font-size: 100%; font-family: georgia;">Gastrointestinal</span><span style="font-size: 100%; font-family: georgia;"><br />
Mual, muntah, nyeri abdominal, diare</span></p>
<p>Sering kali pasien menjabarkan keadaan tersebut sebagai suatu sensasi hampir mati (<span style="font-style: italic; font-size: 100%; font-family: georgia;">angor animi</span><span style="font-size: 100%; font-family: georgia;">). Meski jarang terjadi, kejang dapat ikut &#8220;meramaikan&#8221; acara anafilaksis. Kematian yang pada anafilaksis biasanya terjadi akibat obstruksi saluran napas, atau kolaps nya sistem kardio vaskular, atau keduanya. Diduga kuat ada suatu keterkaitan antara kecepatan onset timbulnya gejala setelah paparan alergen pemicu dan berat ringannya episode serangan; di mana </span><span style="font-weight: bold; font-style: italic; font-size: 100%; font-family: georgia;">makin cepat onsetnya makin berat pula rangkaian anafilaksisnya</span><span style="font-size: 100%; font-family: georgia;">. Dalam agenda anafilaksis, setiap detik berharga dalam menyelamatkan nyawa pasien. Pemberian epinefrin makin lama tertunda digabung dengan ada tidaknya riwayat asma pada pasien menimbulkan peningkatan faktor resiko terjadinya kematian.</span></p>
<p>Anafilaksis biasanya muncul dalam hitungan menit, namun juga kadang-kadang terjadi 1 jam setelah paparan. Biasanya yang model seperti ini bukan terjadi akibat pemberian obat-obatan parenteral, namun lebih menjurus ke sengatan binatang (lebah, ular, dll).  Sebagaimana saya sebutkan di atas tadi, kira-kira 20%  dari seluruh kasus anafilaksis yang terjadi memiliki model bifasik. Sepertiga dari kasus yang 20% tersebut dilaporkan lebih berat dari serangan pertama; sepertiga lainnya sama dengan yang pertama; serta sepertiga sisanya lebih ringan dari serangan pertama.</p>
<p>Saya tidak menemukan kepustakaan yang cukup dalam menjabarkan mortalitas kasus anafilaksis bifasik.</p>
<p><a href="http://bp1.blogger.com/_coGHvoTb1iY/SHxKq9D4gJI/AAAAAAAAABI/oZZ5jzq7FQw/s1600-h/bifasik-ana.jpeg"><img style="margin: 0pt auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 376px; height: 270px;" src="http://bp1.blogger.com/_coGHvoTb1iY/SHxKq9D4gJI/AAAAAAAAABI/oZZ5jzq7FQw/s320/bifasik-ana.jpeg" border="0" alt="" /></a></p>
<p>Sampai kini banyak kepustakaan yang me-recommend pemberian kortikosteroid untuk mencegah atau meminimalisir terjadinya serangan fase kedua. Hal ini dia<br />
nggap bermanfaat, namun harap dicatat bahwa ada laporan kasus-kasus yang tetap sampai ke serangan bifasik (bahkan berat) meskipun telah diberikan kortikosteroid. Sehingga seorang dokter mesti mempersiapkan kedatangan &#8220;tamu&#8221; tersebut meski telah diberikan kortikosteroid. Serangan anafilaksis yang berkepanjangan; yang sering kali berhubungan dengan hipotensi berat biasanya kurang responsif terhadap terapi dan prognosisnya buruk.</p>
<p>DIAGNOSIS BANDING<br />
Pada praktek sehari-hari sangat tidak perlu untuk membedakan antara reaksi anafilaktoid dan anafilaksis ketika sedang terjadi karena keduanya memberikan respon pada perawatan yang sama. Yang perlu dibedakan adalah shock anafilaksis dengan kondisi kolaps sirkulasi lainnya. Kondisi yang paling mirip dengan anafilaksis adalah <span style="font-style:italic;">reaksi vasovagal</span>, yang mana pada reaksi ini ditandai dengan <span style="font-weight:bold;">hipotensi, pucat, bradikardi, lemah, mual, muntah, serta diaforesis</span>. Pada reaksi vasovagal tidak dijumpai urtikaria, pruritus, angioedema, takikardi dan bronkospasme.<br />
Dekomp pernapasan akut yang terjadi pada serangan asma berat, aspirasi benda asing, dan emboli pulmoner dapat menyerupai gejala-gejala pernapasan yang terjadi pada anafilaksis, namun tidak disertai gejala lainnya (pruritus, urtikaria, edema, dll).<br />
Angioedema herediter yang dicetuskan oleh stress nonspesifik atau psiko-emosional bisa menimbulkan pembengkakan bibir, lidah, saluran napas atas, dan permukaan mukosa lainnya mungkin dengan disertai keluhan gastro intestinal seperti diare dan kram; namun bedanya tidak disertai pruritus  dan urtikaria. Kondisi ini terjadi pada garis keturunan tertentu dengan keadaan otosomal dominan (&#8230;jadi inget kuliah tingkat satu&#8230;<span style="font-size: 100%; font-family: times new roman;"><img src="/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1.MAR/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /></span><span style="font-size: 100%; font-family: georgia;">) ditunjang riwayat angioedema pada keluarga biasanya ada.</span></p>
<p>Sekarang kita beralih ke best partnya : Terapi.<br />
Anafilaksis adalah suatu kegawatdaruratan medis yang memerlukan terapi SEGERA. Ya, Segera ! Artinya, telat dikit bisa panjang urusannya. Saya pernah mendapat pelajaran berharga dari salah seorang rekan saya, dia pernah memberikan injeksi (Vitamin B inj kalau tidak salah) selang 10 detik kemudian pasiennya sesak napas, pusing, terus pingsan, dan sang dokter dengan &#8220;sigap&#8221; (+ panik + grogi + kaget + takut + terkejut-kejut tentunya) langsung lompat ke mejanya, ambil spuit, ambil ampul adrenalin, patahin ujungnya, kemudian di aspirasi ke spuitnya terus di injeksi ke pasien yang sudah pingsan tersebut&#8230; eh pasiennya bangun lagi. Post panic : <span style="font-size: 100%; font-family: georgia;">Pasiennya bertanya &#8220;Ada apa tadi dok ?&#8230;&#8221; </span><span style="font-size: 100%; font-family: georgia;">tangan teman saya ternyata berdarah-darah disertai serpihan ampul adrenalin yang masih menancap di jarinya, dan dia menjawab &#8220;oh&#8230; nggak ada apa-apa kok&#8221;. Yah kira-kira gitu deh, kejadiannya sudah beberapa tahun yang lalu tapi cukup dahsyat impact nya.</span></p>
<p>Nah sebelum menjawab masalah terapinya, kita bedakan dulu kategorinya menjadi 3 :</p>
<p class="mainTextbold" style="font-family:georgia;"><span style="font-weight:bold;font-size:100%;">Dini </span></p>
<ul class="bullets" style="font-family:georgia;">
<li><span style="font-size:100%;"> sensasi kehangatan / panas dan gatal khususnya pada daerah aksila dan genital </span></li>
<li><span style="font-size:100%;"> perasaan gelisah atau menjadi panik</span></li>
</ul>
<p class="mainTextbold" style="font-weight:bold;font-family:georgia;"><span style="font-size:100%;">Progresif </span></p>
<ul class="bullets" style="font-family:georgia;">
<li><span style="font-size:100%;"> erytema atau rash urtika </span></li>
<li><span style="font-size:100%;"> edema pada wajah, leher, atau jaringan lunak </span></li>
</ul>
<p class="mainTextbold" style="font-weight:bold;font-family:georgia;"><span style="font-size:100%;">Berat</span></p>
<ul class="bullets" style="font-family:georgia;">
<li><span style="font-size:100%;"> hipotensi (shock) </span></li>
<li><span style="font-size:100%;"> bronkospasme (terdengar wheezing) </span></li>
<li><span style="font-size:100%;"> edema laring (dyspnoea, stridor, afonia) </span></li>
<li><span style="font-size:100%;">aritmia, cardiac arrest </span></li>
</ul>
<p style="font-family:georgia;"><span style="font-size: 100%; color: #ff0000;">Catatan: onset pada kasus yang berat dapat berlangsung cepat, tanpa tanda-tanda prodromal.</span></p>
<p><span style="font-size: 100%; font-family: times new roman;"><br />
</span><br />
<!--[if gte mso 9]&gt;     Normal   0               false   false   false      EN-US   X-NONE   X-NONE                                                         MicrosoftInternetExplorer4                                                   &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                &lt;![endif]--> <!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:Wingdings;  panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0;  mso-font-charset:2;  mso-generic-font-family:auto;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face  {font-family:"Cambria Math";  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face  {font-family:Calibri;  panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face  {font-family:"Univers LT";  panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;  mso-font-alt:"Univers LT";  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-format:other;  mso-font-pitch:auto;  mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:10.0pt;  margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.Default, li.Default, div.Default  {mso-style-name:Default;  mso-style-unhide:no;  mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:none;  mso-layout-grid-align:none;  text-autospace:none;  font-size:12.0pt;  font-family:"Univers LT","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-bidi-font-family:"Univers LT";  color:black;} .MsoChpDefault  {mso-style-type:export-only;  mso-default-props:yes;  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault  {mso-style-type:export-only;  margin-bottom:10.0pt;  line-height:115%;} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --> <!--[if gte mso 10]&gt;   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-ts<br />
tyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;}  &lt;![endif]--></p>
<table class="MsoNormalTable" style="border: medium none; width: 405.9pt; border-collapse: collapse; font-family: times new roman;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="541">
<tbody>
<tr style="height: 39.5pt;">
<td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0pt 5.4pt; background: white none repeat scroll 0pt 0pt; width: 43.15pt; height: 39.5pt;" width="58">
<p class="Default" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:180%;"><strong><span style="color: #ef4034;">1</span></strong></span></p>
</td>
<td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0pt 5.4pt; background: white none repeat scroll 0pt 0pt; width: 362.75pt; height: 39.5pt;" width="484" valign="top">
<p class="Default"><span style="font-size:100%;"><strong><span style="color: #ef4034;">Singkirkan Alergen   Penyebab<br />
</span></strong></span><span style="font-size: 100%; color: #221e1f;">Stop seluruh obat   yang dicurigai, atau media kontras, bersihkan dari mulut penderita, cabut   sisa sengatan lebah (bila ada). </span></td>
<td style="vertical-align:top;"></td>
<td style="vertical-align:top;"></td>
</tr>
<tr style="height: 37.5pt;">
<td style="border-style: none solid solid; padding: 0pt 5.4pt; background: white none repeat scroll 0pt 0pt; width: 43.15pt; height: 37.5pt;" width="58">
<p class="Default" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:180%;"><strong><span style="color: #ef4034;">2</span></strong></span></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; padding: 0pt 5.4pt; background: white none repeat scroll 0pt 0pt; width: 362.75pt; height: 37.5pt;" width="484" valign="top">
<p class="Default"><span style="font-size:100%;"><strong><span style="color: #ef4034;">Berikan Oksigen<br />
</span></strong></span><span style="font-size: 100%; color: #221e1f;">Baringkan pasien   datar, dan berikan oksigen melalui face mask pada flow rate tertinggi yang   memungkinkan (&gt; 6 L/menit). </span></td>
<td style="vertical-align:top;"></td>
<td style="vertical-align:top;"></td>
</tr>
<tr style="height: 131.75pt;">
<td style="border-style: none solid solid; padding: 0pt 5.4pt; background: white none repeat scroll 0pt 0pt; width: 43.15pt; height: 131.75pt;" width="58">
<p class="Default" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:180%;"><strong><span style="color: #ef4034;">3</span></strong></span></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; padding: 0pt 5.4pt; background: white none repeat scroll 0pt 0pt; width: 362.75pt; height: 131.75pt;" width="484" valign="top">
<p class="Default"><span style="font-size:100%;"><strong><span style="color: #ef4034;">Berikan Adrenaline</span></strong><strong><span style="color: #221e1f;"><br />
Segera berikan injeksi adrenaline 1:1000 intramuscular pada paha bagian luar   (lateral).<br />
</span></strong><strong><span style="color: #ef4034;">Dewasa (dan anak &gt;   25 kg)<br />
</span></strong></span><span style="font-size: 100%; color: #221e1f;"> 50 kg . . . . . . . . . . . . berikan 0.50 mL <span> </span><br />
</span><span style="font-size:100%;"><strong><span style="color: #ef4034;">Anak-anak (</span></strong></span><span style="font-size: 100%; color: #221e1f;">(pakailah spuit   insulin ukuran 1 mL)<br />
1 thn . . . . . . . . . . . . 10 kg . . . . . . . . . . . . <span> </span>beri 0.1 mL<br />
3 thn . . . . . . . . . . . . 15 kg . . . . . . . . . . . . <span> </span>beri 0.15 mL<br />
5 thn . . . . . . . . . . . . 20 kg . . . . . . . . . . . . <span> </span>beri 0.2 mL<br />
8 thn . . . . . . . . . . . . 25 kg . . . . . . . . . . . . <span> </span>beri 0.25 mL </span></td>
<td style="vertical-align:top;"></td>
<td style="vertical-align:top;"></td>
</tr>
<tr style="height: 42.5pt;">
<td style="border-style: none solid solid; padding: 0pt 5.4pt; background: white none repeat scroll 0pt 0pt; width: 43.15pt; height: 42.5pt;" width="58">
<p class="Default" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:180%;"><strong><span style="color: #ef4034;">4</span></strong></span></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; padding: 0pt 5.4pt; background: white none repeat scroll 0pt 0pt; width: 362.75pt; height: 42.5pt;" width="484" valign="top">
<p class="Default"><span style="font-size:100%;"><strong><span style="color: #ef4034;">Berikan Resusitasi   Cairan</span></strong></span><span style="font-size: 100%; color: #221e1f;"><br />
Segera setelah pemberian adrenalin di atas, berikan IV line dan infuskan normal   saline atau Hartmann&#8217;s solution (20 mL/kg). Lanjutkan selama diperlukan. </span></td>
<td style="vertical-align:top;"></td>
<td style="vertical-align:top;"></td>
</tr>
<tr style="height: 59.4pt;">
<td style="border-style: none solid solid; padding: 0pt 5.4pt; background: white none repeat scroll 0pt 0pt; width: 43.15pt; height: 59.4pt;" width="58">
<p class="Default" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:180%;"><strong><span style="color: #ef4034;">5</span></strong></span></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; padding: 0pt 5.4pt; background: white none repeat scroll 0pt 0pt; width: 362.75pt; height: 59.4pt;" width="484" valign="top">
<p class="Default"><span style="font-size:100%;"><strong><span style="color: #ef4034;">Ulangi   Pemberian Adrenaline</span></strong></span><span style="font-size: 100%; color: #221e1f;"><br />
Bila diperlukan, ulangi pemberian secara intra muskular setiap 5 menit. Adrenalin   dalam dosis besar mungkin diperlukan, hingga maksimum 5 mL (5 mg)<strong>. </strong>Bila   sang pasien masih dalam kondisi shock setelah 2 kali pemberian adrenalin   secara intra muskuler, pertimbangkan pemberian adrenalin secara infus untuk   mengembalikan tekanan darah. </span></td>
<td style="vertical-align:top;"></td>
<td style="vertical-align:top;"></td>
</tr>
<tr style="height: 43.65pt;">
<td style="border-style: none solid solid; padding: 0pt 5.4pt; background: white none repeat scroll 0pt 0pt; width: 43.15pt; height: 43.65pt;" width="58">
<p class="Default" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:180%;"><strong><span style="color: #ef4034;">6</span></strong></span></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; padding: 0pt 5.4pt; background: white none repeat scroll 0pt 0pt; width: 362.75pt; height: 43.65pt;" width="484" valign="top">
<p class="Default"><span style="font-size:100%;"><strong><span style="color: #ef4034;">Berikan Ventilasi   Buatan<br />
</span></strong></span><span style="font-size: 100%; color: #221e1f;">Bila terdapat gangguan   pernapasan yang berat dan kolaps kardiovaskular atau koma. </span></td>
<td style="vertical-align:top;"></td>
<td style="vertical-align:top;"></td>
</tr>
<tr style="height: 104.15pt;">
<td style="border-style: none solid solid; padding: 0pt 5.4pt; background: white none repeat scroll 0pt 0pt; width: 43.15pt; height: 104.15pt;" width="58">
<p class="Default" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:180%;"><br />
&gt;<strong><span style="color: #ef4034;">7</span></strong></span></td>
<td style="border-style: none solid solid none; padding: 0pt 5.4pt; background: white none repeat scroll 0pt 0pt; width: 362.75pt; height: 104.15pt;" width="484" valign="top">
<p class="Default"><span style="font-size:100%;"><strong><span style="color: #ef4034;">Pengobatan   Tambahan<br />
</span></strong></span><span style="font-size: 100%; color: #221e1f;">Bronkodilator </span><span style="font-size: 100%; color: #221e1f;"><span>à</span></span><span style="font-size: 100%; color: #221e1f;"> Untuk keadaan bronkospasme, berikan salbutamol atau   terbutalin dengan nebuliser atau bentuk aerosol. Pada kasus yang berat   gunakan secara terus-menerus. </span></p>
<p class="Default"><span style="font-size: 100%; color: #221e1f;">Corticosteroid </span><span style="font-size: 100%; color: #221e1f;"><span>à</span></span><span style="font-size: 100%; color: #221e1f;"> Berikan hydrocortisone 2–6 mg/kg atau dexamethasone 0.1–0.4   mg/kg intravenous. </span></p>
<p class="Default"><span style="font-size: 100%; color: #221e1f;">Adrenaline dlm   bentuk nebulisasi (5 mL dari 1:1000) </span><span style="font-size: 100%; color: #221e1f;"><span>à</span></span><span style="font-size: 100%; color: #221e1f;"> dapat dicoba pada kasus edema laring   dan dapat meringankan obstruksi saluran napas atas.</span></p>
<p class="Default"><span style="font-size: 100%; color: #221e1f;">Penting :   Jangan menunda intubasi bila obstruksi yang terjadi berkembang terus secara   progresif. </span></p>
</td>
<td style="vertical-align:top;"></td>
<td style="vertical-align:top;"></td>
</tr>
<tr style="height: 78.25pt;">
<td style="border-style: none solid solid; padding: 0pt 5.4pt; background: white none repeat scroll 0pt 0pt; width: 43.15pt; height: 78.25pt;" width="58">
<p class="Default" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:180%;"><strong><span style="color: #ef4034;">8</span></strong></span></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; padding: 0pt 5.4pt; background: white none repeat scroll 0pt 0pt; width: 362.75pt; height: 78.25pt;" width="484" valign="top">
<p class="Default"><span style="font-size:100%;"><strong><span style="color: #ef4034;">Terapi Suportif<br />
</span></strong></span><span style="font-size: 11px; color: #221e1f;"><span style="font-size:100%;">Lakukan observasi   tanda vital sesering mungkin. Bila mungkin monitor ECG dan oksimetri.   Pastikan pasien di lingkungan rumah sakit untuk observasi sedikitnya 4-6 jam   setelah pulih dari gejala dan tanda anafilaksis, untuk mengantisipasi   terjadinya serangan bifasik. </span></span></td>
<td style="vertical-align:top;"></td>
<td style="vertical-align:top;"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><span style="font-size: 85%; font-family: georgia;"><span style="font-weight:bold;font-style:italic;">Catatan</span><br />
</span></p>
<ol style="font-family:times new roman;">
<li><span style="font-size:85%;">Adrenaline sifatnya life-saving dan harus diberikan sesegera mungkin. Menunda pemberiannya (akibat lupa tempat menyimpannya, dll) berakibat timbulnya efek samping yang membahayakan nyawa. Penggunaan adrenaline pada kondisi anafilaksis adalah <span style="font-style:italic;"><span style="font-weight:bold;">aman </span></span>dan <span style="font-style:italic;"><span style="font-weight:bold;">efektif</span></span>.</span></li>
<li><span style="font-size:85%;">Adrenaline 1:1000 mengandung 1000 microgram dalam 1 mL (1 mg/mL). Volume adrenaline yang dianjurkan bagi dewasa dan anak adalah kira-kira 5–10 microgram/kg. Berat badan anak bisa diperkirakan berdasarkan umurnya.</span></li>
<li><span style="font-size:85%;">Bila fasilitas perawatan khusus tidak tersedia segera, berikan adrenalin dalam larutan infus sebagai berikut<br />
- Campurkan 1 mg adrenaline (1 ampul) dalam 1000 mL normal saline<br />
- Berikan infus sebanyak 5 mL/kg/jam (kira-kira. 0.1 microgram/kg/menit)<br />
- Titrasi dapat dinaikkan atau diturunkan sesuai dengan respon pasien<br />
</span></li>
<li><span style="font-size:85%;">Pada beberapa kasus dilaporkan kondisi pasien resisten terhadap adrenaline, khususnya bila pasien rutin menggunakan obat-obatan golongan beta bloker. Bila dosis yang adekuat tidak memberikan perbaikan, berikan glukagon 1–2 mg intravena selama 5 menit.</span></li>
<li><span style="font-size:85%;">Intubasi untuk obstruksi saluran napas yang sedang terjadi (impending) adalah suatu tindakan beresiko tinggi, sebaiknya hanya dilakukan oleh ahlinya.</span></li>
<li><span style="font-size:85%;">Kortikosteroid dapat mengubah durasi serangan dan mencegah relaps. Penting : jangan pernah mengandalkan kortikosteroid dan meninggalkan adrenalin.</span></li>
<li><span style="font-size:85%;">Tahanlah pasien di rumah sakit lebih lama bila ada riwayat asma dan alergi lainnya, atau bila pasien memerlukan dosis adrenalin yang berulang. Semua pasien harus di follow up untuk mencari kemungkinan faktor pencetus dan penatalaksanaan lebih lanjut</span></li>
</ol>
<p><span style="font-family: times new roman;">Terapi tambahan lainnya untuk anafilaksis adalah antihistamin AH1 dan AH2. Contohnya difenhidramin 25 &#8211; 50 mg i.v, ranitidin 50 mg i.v atau 150 mg p.o. Sangat disarankan untuk  menggunakan kombinasi AH1 dan AH2 agar terapi lebih efektif. Pemberian inhalasi ß</span><sub>2</sub><span style="font-family: times new roman;">- agonists seperti salbutamol bermanfaat bila terdapat bronkospasme. Kortikosteroid seperti metilprednisolon 125 mg i.v, atau prednison 50 mg p.o dapat bermanfaat mencegah timbulnya serangan kedua (bifasik). Pasien dengan hipotensi harus mendapatkan terapi cairan secara i.v yang mengandung koloid atau kristaloid. Pada kasus yang sangat berat mungkin diperlukan tambahan zat vasopressor seperti dopamin atau epinefrin dalam bentuk drip. Waktu aman untuk memberikan terapi pasca anafilaksis adalah 4 hari dengan pemberian prednison dan difenhidramin secara reguler.</span><br />
<span style="font-family: times new roman;">Akhir kalam, observasi pasca terapi pada pasien diperlukan -terutama- untuk mengantisipasi serangan pada fase kedua. Meski kebanyakan terjadi pada periode 1 &#8211; 8 jam pertama, terdapat laporan dimana serangan fase kedua terjadi hingga 38 jam setelah serangan pertama. Observasi selama 24 jam pasca anafilaksis adalah idealnya, tapi secara praktis sulit. Disarankan agar pasien dibebaskan dari IGD dengan pengawasan yang ketat, dan mudah dijangkau just in case terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.</span><br />
<span style="font-family: times new roman;">Menyusul terapi yang sukses, pasien sebaiknya diberi pengarahan, agar dia menggunakan semacam &#8220;tag&#8221; atau tanda pengenal bahwa pasien tersebut pernah mengalami anafilaksis, agar sebagai informasi terapi bagi dokter lain, di tempat lain, dan di waktu yang lain.</span><br />
<h3 class='related_post_title'>Posting terkait:</h3>
<ul class='related_post'>
<li><a href='http://www.drarief.com/rokok-penyumbang-kerugian-negara/' title='Rokok : Penyumbang Kerugian Negara&#8230;'>Rokok : Penyumbang Kerugian Negara&#8230;</a></li>
<li><a href='http://www.drarief.com/bagaimana-menjadi-pasien-yang-pintar/' title='Bagaimana menjadi pasien yang pintar?'>Bagaimana menjadi pasien yang pintar?</a></li>
<li><a href='http://www.drarief.com/nilai-referensi-pemeriksaan-kimia-darah/' title='Nilai Referensi Pemeriksaan Kimia Darah'>Nilai Referensi Pemeriksaan Kimia Darah</a></li>
<li><a href='http://www.drarief.com/habis-rokok-terbitlah-diabetes/' title='Habis Rokok Terbitlah Diabetes&#8230;'>Habis Rokok Terbitlah Diabetes&#8230;</a></li>
<li><a href='http://www.drarief.com/kenali-obat-anda/' title='Kenali Obat Anda !'>Kenali Obat Anda !</a></li>
</ul>
<p><a href="http://www.drarief.com/the-scary-anaphylactic-story/">The Scary Anaphylactic Story&#8230;</a> is a post from: <a href="http://www.drarief.com">Dr Arief</a></p>
Here is no comments yet by the time  your rss reader get this, Do you want to be the first commentor? Hurry up ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.drarief.com/the-scary-anaphylactic-story/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

