Sugesti, sebuah wacana penting dalam kesehatan…
Posted on February 26, 2009
Filed Under Informasi Untuk Pasien | Leave a Comment

Pernahkah Anda mendengar kata “Sugesti”? Saya yakin Anda sudah pernah bahkan sering mendengarnya. Dalam kamus bahasa Indonesia, sugesti selain artinya suatu saran / pendapat juga berarti suatu pengaruh yang dapat menggerakkan hati orang dan memberikan dorongan atau motivasi terhadap suatu keyakinan.
Simple bukan ? Kedengarannya memang demikian. Tapi pada prakteknya, sugesti memiliki makna yang cukup besar dalam ruang lingkup kesehatan. Pada banyak kasus saya jumpai orang yang sebenarnya sehat, namun ia mendapatkan self-suggestion (tersugesti oleh dirinya sendiri) bahwa ia sebenarnya sakit; dan dia pun benar-benar sakit. Demikian pula sebaliknya, saya juga beberapa kali menjumpai orang yang sebenarnya sedang sakit, tapi karena mendapatkan sugesti yang kuat akhirnya dia seketika itu pula mengalami peningkatan kesehatan. Pernahkan Anda mendengar cerita tentang seorang dokter top di suatu tempat yang pasiennya demikian banyaknya hingga harus antri panjang sekali? Pada kondisi seperti ini sering sugesti bermain pada orang yang mendengar tentang sang dokter tersebut. Kadang baru dengar namanya saja sudah merasa enakan
Bukan sulap, bukan sihir !
Lah kok bisa ya? Bagaimana mekanisme terjadinya ? Darimana orang yang sebenarnya sakit tadi mendapatkan energi tiba-tiba ? Mengapa tidak terjadi pada semua orang ? Bentar… kita bahas satu demi satu.
Pertama, tentang mekanisme terjadinya. Tubuh kita memang diciptakan oleh Allah SWT dengan kemampuan yang sangat hebat, memiliki banyak cadangan energi yang sengaja disimpan untuk dipakai dalam keadaan darurat. Sebut saja emergency plan. Contohnya di paru-paru. Pada keadaan terjadi kerusakan jaringan paru, tubuh akan “mencari jalur” lain dengan membuka area baru yang pada keadaan normal tidak dipakai. Dalam istilah kedokterannya disebut kolateralisasi. Hal ini terjadi pada hampir seluruh organ dan jaringan tubuh kita, termasuk jantung. Memang tidak “ngefek” dengan power maksimal 100%, namun pada banyak kejadian, hal ini bersifat sebagai “emergency life saving”. Adakalanya kolateralisasi yang terbentuk masih tidak cukup untuk mengkompensir kerusakan yang terjadi, maka terbentuklah suatu keadaan permanen (sakit berat, cacat, atau mati). Contohnya pada serangan jantung; ketika sebuah pembuluh darah koroner tersumbat, tubuh akan membuka jalur kolateral lain agar terjadi kompensasi. Bila tidak terjadi kompensasi setelah tubuh mencari “jalur alternatif” ini, barulah terjadi masalah yang berat.
Nah kembali ke soal sugesti, memang saya belum menemukan kepustakaan yang resmi membahas soal ini, namun dalam dunia kedokteran ada suatu istilah penyakit yang disebut sebagai Psikosomatis. Ini adalah suatu keadaan sakit yang sebenarnya didapatkan tubuh dan bersumber dari pikiran atau alam bawah sadar seseorang. Ketika ada problem yang membebani pikiran dan larut terbawa ke alam bawah sadar kita, dalam kadar serta jangka waktu tertentu akan menimbulkan efek negatif bagi kesehatan. Inilah yang disebut dengan penyakit psikosomatis. Berat-ringannya tergantung pada parameter individual yang sangat berbeda di setiap orang. Orang yang tegar mungkin memiliki kecenderungan psikosomatis lebih ringan dibandingkan orang yang mudah panik. Pengobatan pada penyakit ini ditujukan kepada proses yang mendasari; dengan melakukan konseling dan terapi anti stres yang adekuat. Bila tercapai suatu keadaan yang stabil dari terapi ini, maka kesehatan tubuh penderitanya akan berangsur-angsur pulih.
Kembali ke faktor sugesti, di negara kita belakangan marak sekali pengobatan alternatif yang menonjolkan keampuhan sugestif pada cara-cara pengobatannya. Contohnya pada dukun cilik, yang dari ampuhnya aura sugesti yang didengar masyarakat sehingga orang rela mengambil air dari tanah dan got di sekitar rumahnya sebagai ganti dari tidak berhasil menemui si dukun cilik.
Saya menghimbau kepada masyarakat luas, bahwa “Merasa Enakan” adalah sama sekali berbeda dengan sembuh. Suatu keadaan penyakit dianggap sembuh ketika dapat dibuktikan secara bermakna bahwa faktor penyebabnya entah itu bakteri, virus, jamur, atau yang lainnya telah berhasil diatasi (dibersihkan dari tubuh, tidak aktif lagi, dibunuh, dan lain-lain). Selain dari itu, sensasi “merasa lebih enak” belum tentu sama dengan sembuh.
Jadi, periksa kembali apakah pengobatan yang Anda tempuh benar-benar mengatasi masalah, atau hanya sekedar sugesti belaka…


Leave a Reply