Imunisasi Haram Hukumnya…. Masa' sih ?

Mengingat pentingnya masalah imunisasi ini, saya sih masih merasa belum puas dengan posting-posting saya terdahulu tentang imunisasi, sehingga saya merasa perlu untuk menambahkan beberapa post lagi barangkali seputar imunisasi.

Yang ingin saya bicarakan sekarang adalah isu-isu yang salah di masyarakat seputar imunisasi. Saya mendengar isu ini sejak saya kecil dulu hingga sekarang ini masih ada saja yang beranggapan demikian. Isu tersebut antara lain adalah :

  • Imunisasi tidak penting bagi anak ?
  • Imunisasi berarti memasukkan penyakit ke dalam tubuh anak yang sehat, sehingga hukumnya haram ?
  • Imunisasi adalah program KB terselubung yang bertujuan untuk “memandulkan” anak ?
  • Dan lain sebagainya

Isu-isu di atas adalah TIDAK BENAR. Saat ini informasi bisa kita dapatkan dengan mudah dengan cara apapun. Kita bisa mengetahui dari belahan dunia manapun dengan mudah dan cepat. Kita bisa menyaksikan bagaimana dunia berlomba-lomba meningkatkan kecanggihan vaksin untuk meningkatkan kekebalan tubuh anak, dengan mengurangi efek samping hingga seminimal mungkin. Sekarang kita juga bisa membuktikan bahwa para ahli di seluruh dunia sepakat bahwa imunisasi adalah penting.

Bagi beberapa orang yang termakan isu-isu di atas, silakan Anda cari informasi terkini yang berkenaan dengan imunisasi tersebut. Insya Allah Anda akan menemukan 100% informasi – yang ilmiah tentunya, bukan sekedar asal ngomong belaka – yang akan mendukung dan menguatkan dasar pentingnya dilakukan imunisasi.

“Toh anak saya juga sehat nggak pakai imunisasi…” nah lho? Memang benar ada kemungkinan anak Anda tetap sehat tanpa imunisasi. Sebagaimana yang diungkapkan oleh dr. Adi di atas tadi, imunisasi bertujuan untuk memproteksi bukan 100%, terhadap penyakit. Ini artinya, bila sang anak yang sehat tanpa imunisasi tadi tidak tertular oleh penyakit yang dia tidak memiliki daya tahan terhadapnya maka kita sebut saja dia “beruntung”. Contohnya penyakit tuberculosis (TBC) yang dinyatakan secara statistik (dihitung orang per orang di setiap negara) bahwa Indonesia salah satu yang menduduki peringkat tertinggi di dunia. Apakah Anda tega membiarkan sang anak tanpa perlindungan dan hanya berbekal “semoga beruntung” saja?

Anak yang sudah diimunisasi dengan baik masih mungkin tertular penyakit tersebut. Namun, dibandingkan dengan yang tidak diimunisasi, tingkat sakitnya akan jauh berbeda.

Sebagai permisalan, pada saat turun hujan; anak yang diimunisasi adalah ibarat anak yang memakai jas hujan dan yang tidak diimunisasi adalah ibarat anak yang tidak memakai jas hujan. Apakah mungkin yang memakai jas hujan masih basah ? Mungkin saja! Tapi coba bandingkan dengan yang tidak pakai jas hujan. Tentu derajat “basahnya” tidak akan sama…

Nah khusus untuk poin isu ke-2 di atas yang – mungkin – diyakini kebenarannya oleh beberapa orang, saya punya penjelasan sedikit… (sedikit terus dari tadi :) ) Imunisasi memang benar berarti memasukkan penyakit ke dalam tubuh anak….. eit tapi tunggu dulu, bukan sembarang penyakit yang dimasukkan ke dalam tubuh sang anak tersayang.Vaksin penyakit yang dimasukkan kedalam tubuh anak pada imunisasi khusus untuk penyakit-penyakit yang terpilih yang berpotensi menimbulkan akibat yang fatal atau cacat yang permanen pada masa depannya. Vaksin tersebut adalah penyakit yang telah dilemahkan di laboratorium dan telah teruji secara klinis, sehingga yang didapatkan oleh sang anak adalah kekebalan terhadap penyakit tersebut dalam wujud sebenarnya – yang tidak dilemahkan.

Tubuh manusia memiliki suatu mekanisme untuk belajar mengatasi rangsangan dari luar. Ini adalah suatu karunia yang sangat besar yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Rangsangan ini bisa berwujud perubahan cuaca dari panas ke dingin (atau sebaliknya), kontak dengan bakteri dan virus yang ada di udara bebas, kontak dengan alergen; atau singkatnya : kontak dengan dunia luar. Anak yang sehat memiliki kemampuan untuk mempelajari dan membuat kesimpulan tentang apa yang dipelajarinya. Ini juga terjadi pada sistem imun (kekebalan) tubuhnya. Proses belajar pada kekebalan tubuhnya akan langsung terjadi sesaat setelah seseorang bersinggungan dengan penyakit (misalnya dari orang lain). Kekebalan akan didapatkan sebagai hasil akhir / kesimpulan dari proses belajar tersebut – dengan catatan – bila status gizi pada tubuhnya baik. Mungkin ia akan mengalami sakit dahulu, namun tubuhnya akan terus mempelajari dan membuat kesimpulan terhadap penyakit tersebut.

Kekebalan dapat diperoleh dengan 2 cara, yaitu kekebalan aktif dan kekebalan pasif. Bedanya, yang satu didapatkan setelah seseorang sembuh dari suatu penyakit, dan yang lainnya didapatkan melalui vaksin penyakit tersebut.

Sebagai contoh : Seseorang bernama A terkena penyakit – sebut saja – penyakit “X”. Setelah sembuh, si A tadi akan memiliki kekebalan terhadap penyakit “X” tersebut. Pada kasus lain, seseorang lainnya bernama B mendapatkan vaksinasi penyakit “X”, dan dia mendapatkan kekebalan terhadap penyakit “X” tersebut. Menurut Anda, mana yang lebih bagus ? si A atau si B ? Anda menjawab “Tentu saja si A !”. Benarkah ?…..

Mungkin jawaban di atas benar, bila penyakit “X” yang dimaksud adalah penyakit yang sederhana, seperti flu biasa. Yang jadi masalah adalah : bagaimana bila penyakit “X” yang dimaksud adalah suatu penyakit yang fatal dan berpotensi untuk meninggalkan kecacatan??? Misalnya penyakit “X” tersebut adalah Polio, si A yang mendapat kekebalan setelah sembuh dari sakitnya belum tentu bisa berjalan dengan baik, bahkan mungkin ia tidak dapat berjalan lagi; sementara si B – yang mendapatkan vaksinasi polio – juga mendapatkan kekebalan terhadap penyakitnya, tetapi tanpa harus mengalami sakit terlebih dahulu…. Apa artinya seseorang memperoleh kekebalan setelah sembuh dari sakitnya, tapi ia kini juga memperoleh kecacatan (buta, lumpuh, dll) ? Tentu tidak banyak artinya. Apalagi pada konteks anak, masa depannya masih sangat-sangat-amat panjang sekali, banget… eh kelebihan yah ? :)

Jadi, ayo kita imunisasi anak-anak kita. Ini adalah salah satu amanah yang harus kita kerjakan sebagai orang tua terhadap anak-anak kita.

:)

10 thoughts on “Imunisasi Haram Hukumnya…. Masa' sih ?

  1. Assalamu’alaikum dokter,

    Saya pernah mendengar wawancara dengan MUI dari radio Hang FM Batam, bahwa pada kenyataannya obat-obatan yang digunakan untuk imunisasi itu ‘belum ada sertifikat halal’ dan menurut salah seorang teman yang kuliah di kedokteran, bahwa bahan-bahan yang digunakan untuk imunisasi itu memang sebagian haram, seperti dari babi, kera dsb.

    Mohon penjelasannya

  2. Wa’alaikum salam. Apa kabar Rahma ?

    Pembahasan mengenai hal ini dan kontroversinya pernah di bahas di majalah Nikah dan majalah Elfata, namun sayang sekali dari beberapa edisi yang saya kumpulkan saya belum menemukan eidisi yang memuatnya. Di sana juga dimuat beberapa bantahan dan pembelaan dari segi fiqih Islam. Insya Allah bila edisi tsb ketemu akan saya post di sini.
    Tentang “belum mendapatkan sertifikat halal”, bila kita tengok ke jajaran obat-obatan maka kita akan menemukan hal yang serupa juga. Begitu banyak obat-obatan baik lokal maupun impor yang sama-sama tidak mendapatkan sertifikat halal dari MUI, termasuk selongsong kapsul kosongnya; tapi tidak banyak orang yang ambil pusing. Beberapa mungkin beranggapan bahwa obat kan digunakan dalam keadaan darurat (karena sakit), namun saya melihat masalah imunisasi ini bila ditimbang manfaatnya (kemaslahatannya) juga tak kalah pentingnya. Sekali lagi saya tuliskan pendapat saya, apa untungnya seseorang mendapatkan suatu keadaan “immune” atau kebal terhadap penyakit, setelah yang bersangkutan sembuh dari penyakit tertentu namun juga disertai gejala sisa yang menetap dari penyakitnya? Misalnya penyakit yang dimaksud adalah polio; tak banyak yang dapat dilakukan untuk berobat dari gejala sisanya….
    Tentang bahan pembuatan vaksin yang dibuat dari substansi haram, di sini terletak perbedaan antara beberapa praktisi medis mengenainya. Saya belum menemukan kepustakaan resmi dari pabrik farmasi mengenai substansi dasar pembuatan vaksin yang saat ini dipakai untuk memproduksi. Saya katakan “saat ini”, karena mengingat proses pembuatan obat sekarang sudah jauh lebih maju dibandingkan dengan beberapa dekade silam pada saat vaksin-vaksin tersebut ditemukan pertama kalinya. Pada tahap awal pembuatannya, vaksin dapat di ekstrak dari mana saja ditemukan bahannya pertama kali. Contohnya untuk Rubella, pertama kali ditemukan dari kuda dan sapi sehingga ekstrak sampel darah yang dipakai untuk membuat vaksin berasal dari kedua binatang tersebut. Namun itu dulu. Saat ini vaksinasi yang ada tidak lagi dibuat dari ekstrak Equine (kuda) atau Bovine (sapi); melainkan secara sintetik dibuat di laboratorium untuk kemudian dikemas dengan higienis dan selanjutnya di distribusi ke seluruh dunia sebagai vaksin.
    Data yang saya temukan saat ini memang belum lengkap semua, namun justru mengindikasikan sebaliknya, tidak ada lagi vaksin yang dibuat dari bahan dasar Porcine (babi) atau Pongine (kera). Insya Allah akan saya lengkapi data-data tersebut untuk posting yang mudah dimengerti di kemudian hari.

    Berkenaan dengan proses pembuatan vaksin, bila Anda memiliki arsip terkini dari sumber yang terpercaya mohon kesediaannya untuk mengirimkan kepada saya.

  3. Anak saya berumur 22 bulan, saya ingin anak saya mendapatkan imunisasi influenza, dimana dan kira2 berapa biayanya ? Kenapa ya berat badan anak saya cuma 10 Kg, berat lahirnya 2.7 Kg. Bagaimana porsi makan yg benar u/ anak seusia itu, dan berapa berat badan yg ideal ? Perlukah diberi suplemen ? Apa suplemen yg baik ? Bagaimana dg minyak ikan ? Apa merk yg baik. Terimakasih ya dok.

  4. terima kasih atas info dari dr. Arief. dan saya tunggu yang akan diposting nya……

  5. assalamualaikum dokter,
    saya minta tolong ni, tolong dijelasin tentang imunisasi TT / imunisasi calon pengantin.
    karna isunya imunisasi ini adalah program kb terselubung. dan berdampak apabila kondisi kandungan si calon pengantin itu kurang baik, maka imunisasi ini dapat menyebabkan si wanita td akan kesulitan mendapatkan keturunan???
    terimakasih

  6. Dear Sari.
    Wa’alaikum salam. Untuk Imunisasi pada ibu hamil dan calon pengantin, yang diberikan adalah imunisasi tetanus toxoid. Gunanya adalah untuk mencegah terjadinya tetanus pada bayi yang dilahirkan. Tetanus toxoid adalah vaksin rutin yang diberikan pada banyak orang, dan isu tentang program kb terselubung itu tidak benar. Saya sudah memberikan vaksinasi ini berkali-kali, dan banyak dari mereka yang sekarang sudah pada ikut KB…. Keluarga Besar :)…. maksud saya banyak keturunannya.

  7. Tambahan lagi…
    Info dari negara Saudi Arabia : anak yang dilahirkan di sana seluruhnya wajib mendapatkan imunisasi. Bagi yang menolak tidak akan diberi izin tinggal / diberi sanksi cekal KTP nya. Juga dalam program haji, salah satu syaratnya adalah mengikuti program imunisasi yang diwajibkan bagi peserta haji, atau mereka tidak boleh masuk ke negara tersebut. Saudi Arabia adalah negara pusatnya ulama di dunia, menjadi rujukan utama umat Islam di dunia, dan pada saat keluarnya Dajjal nanti adalah salah satu yang dijaga Allah dari “kunjungan” Dajjal…. Toh mereka mewajibkan imunisasi….
    Jadi, sangat tidak beralasan bagi yang mengharamkannya karena dasar isu yang tidak jelas.

  8. Makasih ya dokter, tp msh penasaran ni. sekitar 7 thn lalu, waktu smu sepertinya saya sudah mendpatkan vaksinasi TT di sekolah. apa msh perlu dsuntik lg? soalnya mgu depan insya allah saya akan menikah. dan sekarang kondisi saya sedang influenza berat…tdk apa2 klo saya suntik dlm mgu ini? atau kpn2 saja apabila saya sudah hamil?

  9. Pingback: Imunisasi, Lagi… « Tarbiyatul Abna

Comments are closed.