Hadiah Untuk Anda

Halaman ini saya tujukan khususnya bagi Anda yang sedang sakit, dan bagi orang-orang di bawah ini :

  • Mereka yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan berbagai musibah dan kesulitan…
  • Mereka yang Allah SWT kehendaki untuk menjadi lebih bersih melalui terpaan berbagai macam penyakit…
  • Mereka yang ingin mengenal dan memahami hakikat penyakit yang menimpanya…
  • Atau, untuk mereka yang kehilangan tenaga dan kesegaran jasmaninya, namun tetap berdzikir kepada Allah, bersyukur, bersabar dan mengharapkan pahala…

Camkanlah sabda Rasulullah SAW :
“Sungguh ajaib kondisi seorang mukmin; seluruh kondisinya pasti menjadi baik. Dan itu hanya dimiliki oleh seorang mukmin saja. Apabila ia memperoleh kenikmatan, ia akan bersyukur, maka kesenangan itu akan menjadi kebaikan buat dirinya. Apabila ia tertimpa musibah, ia akan bersabar, dan musibah itupun akan menjadi kebaikan buat dirinya..” [Diriwayatkan oleh Muslim]
Allah SWT berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu..” (Al-Baqarah : 216)

Wahai saudaraku yang tertimpa penyakit, semoga Allah SWT memberikan kesembuhan dan keselamatan kepadamu, dari segala penyakit dan cobaan yang menimpa dirimu. Silakan buka kelopak matamu dalam kesempatan yang selintas ini. Perbesarlah pandangan matamu untuk menyelami tulisan yang penuh pelajaran dan ungkapan yang baik.
Ini adalah beberapa langkah taktis yang di’imunisasi’ dengan cahaya wahyu, ditaburi wewangian dengan hikmah risalah kenabian..
Saya memohon kepada Allah, agar menjadikan tulisan ini sebagai hiburan saat dibaca, sebagai obat saat dijadikan jalan untuk berdoa, serta menjadi bekal yang cukup dengan segala pembahasan di dalamnya…

Langkah Pertama: Kenikmatan Sekejap

Kenikmatan itu adalah dunia yang telah memperdayai banyak manusia sehingga dijadikan sebagai cita-cita utama mereka, sebagai tujuan terbesar mereka. Padahal Allah menggambarkan dunia sebagai berikut:

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main.” (Al-Ankabuut : 64)
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain kesenangan yang menipu…” (Al-Hadid : 20) hanyalah
Nabi, sang Kekasih Allah menjelaskan sikap beliau terhadap dunia: “Aku di dunia ini tak ubahnya seperti seorang pengembara yang berteduh di bawah sebatang pohon, kemudian pergi lagi meninggalkannya.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi]
Karena beliau memang sudah mengetahui kedudukan dunia dan sudah mengerti betul kehinaan dan kerendahan derajat dunia.

Rasulullah bersabda:
“Kalaupun dunia ini bisa memiliki harga di sisi Allah seperti sehelai sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberikannya kepada orang kafir meski seteguk air.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi]

Di samping itu, dunia juga tidak pernah kekal kondisinya. Kalau dunia bisa membuat kita tertawa sekejap, ia justru akan membuat kita menangis berkepanjangan. Kalau ia membuat kita bergembira sesaat, ia akan membuat kita bersedih dalam waktu yang lama.
Di dunia, seorang hamba tidak akan pernah terlepas dari penyakit yang bisa memperkeruh hidupnya yang jernih, atau penyakit yang melemahkan stamina atau mengganggu tidurnya..

Oleh sebab itu, pesan Nabi sebagai orang yang sudah mengetahui kedudukan dunia adalah sebagai berikut:

“Di dunia ini, jadilah engkau tak ubahnya orang asing atau pengembara saja.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari]. Demikianlah, orang yang sudah mengenal hakikat dunia, pasti akan bersikap zuhud terhadapnya. Barangsiapa yang bersikap zuhud terhadap dunia, pasti segala musibah dan kesulitan dunia akan terasa ringan bagi dirinya…

Langkah Kedua: Cobaan Adalah Tanda Kasih Allah SWT

Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Kalau Allah mencintai seseorang, pasti Allah akan memberikan cobaan kepadanya. Barangsiapa yang ridha menerima cobaannya, maka ia aman menerima keridhaan Allah. Dan barangsiapa yang kecewa menerimanya, niscaya ia akan menerima kemurkaan Allah.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi]
Apabila cobaan dan penyakit itu menimpa orang yang memiliki hubungan yang baik dengan Allah, lalu ia mendapatkan karunia untuk bisa bersabar, niscaya semua itu menjadi tanda kebaikan dan tanda cinta kasih dari Rabb-nya.
Rasulullah  bersabda:
“Kalau Allah menginginkan kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah akan memberikan siksaan-Nya secara lebih awal di dunia saja..” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi]
Siapa saja yang mencermati perjalanan hidup para nabi dan rasul –‘alaihimussalam– sebagai orang-orang yang paling dicintai oleh Allah, pasti akan mendapatkan bahwa cobaan adalah garis hidup mereka; kesusahan dan penyakit seolah menjadi senandung mereka..”
Abdullah bin Mas’ud  pernah menemui Rasulullah  saat beliau sedang mengalami demam berat. Ia bertanya: “Wahai Rasulullah! Engkau juga mengalami demam yang seberat ini?” Beliau menjawab: “Betul. Aku bahkan merasakan demam dua kali lipat lebih berat dari yang biasa kalian rasakan.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim]
Saad bin Abi Waqqas pernah ditanya oleh seseorang: “Siapakah orang yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab: Rasulullah  pernah bersabda:
“Orang yang paling berat cobaannya adalah para nabi, baru diikuti oleh orang yang di bawah kedudukan mereka secara berurut. Seorang hamba akan mendapatkan cobaan sesuai dengan kadar keimanannya. Kalau imannya kuat, maka cobaan yang menimpanya juga berat. Kalau imannya lemah, maka cobaan yang menimpanya disesuaikan dengan kadar keimanannya. Cobaan akan terus menimpa seorang hamba, sampai ia dibiarkan berjalan di muka bumi ini tanpa memiliki dosa lagi.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi]
Para ulama As-Salaf telah menyelami pelajaran dari hadits tersebut sehingga mereka mendapatkan pelita terang di dalamnya. Sehingga mereka menganggap bahwa cobaan itu adalah kenikmatan, penyakit dan kesusahan itu adalah kabar gembira..
Oleh sebab itu, saat Wahab melewati seorang lelaki yang tertimpa musibah, buta dan terserang penyakit lepra, buntung kakinya dan tidak lagi berpakaian, masih ditambah dengan cacat ditubuhnya. Namun ia berkata: “Segala puji bagi Allah atas segala nikmat-nikmat-Nya!” Ada orang yang saat itu bersama Wahab, langsung menyela: “Nikmat apa lagi yang masih tersisa pada dirimu sehingga engkau memuji Allah atas kenikmatan tersebut?” Lelaki itu menjawab: “Coba lemparkan pandanganmu ke arah para penduduk kota ini. Perhatikan sebagian besar masyarakat yang ada di dalamnya. Apakah tidak layak aku memuji Allah, karena sudah tidak ada lagi yang mau mengenal-Nya selain diriku?”

Langkah Ketiga: Cobaan Adalah Jalan Menuju Jannah
Sesungguhnya berbagai wabah dan penyakit termasuk di antara bentuk-bentuk cobaan Allah terhadap para hamba-Nya, sebagai ujian atas kesabaran mereka dan sebagai ujian atas keimanan mereka. Bahkan bagi orang yang memiliki pemahaman dan daya merenung yang tinggi, bisa menjadi kenikmatan besar yang wajib disyukuri.
Allah berfirman:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadam, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:”Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah : 155-157)
Allahu Akbar!! Keutamaan apa lagi yang lebih besar dari keutamaan shalawat, rahmat dan petunjuk Allah?
Dari Jabir bin Abdullah –radhiallahu ‘anhuma– diriwayatkan bahwa ia menceritakan: Rasulullah  bersabda:
“Saat orang-orang yang tertimpa musibah diberi pahala di Hari Kiamat nanti, orang-orang yang selamat dari berbagai musibah tersebut berharap seandainya dahulu di dunia kulit mereka dikerat dengan gergaji besi..” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi]
Dari Ibnu Mas’ud  diriwayatkan bahwa ia menceritakan: Rasulullah  bersabda:
“Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan Allah hapuskan berbagai kesalahannya, seperti sebuah pohon meruntuhkan daun-saunnya.” [Diriwayatkan oleh Muslim]
Dari Abu Hurairah t diriwayatkan bahwa Rasulullah r bersabda: “Cobaan itu akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada diri anaknya ataupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi]
Ada seorang wanita datang menemui Nabi r. Ia berkata: “Saya mengidap penyakit apilepsi dan bila penyakitku kambuh, pakaianku tersingkap. Berdoalah kepada Allah untuk diriku.” Rasulullah r bersabda: “Kalau engkau bersabar, engkau mendapatkan Jannah. Tapi kalau engkau mau, aku akan mendoakan agar engkau sembuh.” Wanita itu berkata: “Aku bersabar saja…” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim]
Rasulullah pernah menemui Ummu As-Saa-ib. Beliau bertanya: “Kenapa engkau menggigil seperti itu wahai Ummu As-Saa-ib?” Wanita itu menjawab: “Karena demam wahai Rasulullah, sungguh tidak ada berkahnya sama sekali.” Rasulullah r bersabda: “Jangan engkau mengecam penyakit demam. Karena penyakit itu bisa menghapuskan dosa-dosa manusia seperti proses pembakaran menghilangkan noda pada besi.” [Diriwayatkan oleh Muslim]
Ibnu Abi Ad-Dunya menceritakan: “Sesungguhnya para ulama dahulu mengharapkan dengan demam satu malam, untuk diampuni dosa-dosa mereka yang telah lampau.”
Saudaraku tercinta! Kemungkinan engkau memiliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat dicapai oleh amal perbuatanmu semata. Allah akan terus menurunkan cobaan kepadamu dengan hikmah-Nya yang mungkin tidak engkau sukai, lalu Allah memberikan kesabaran kepadamu untuk menghadapinya sehingga engkau mencapai kedudukan tersebut. Bila demikian, kenapa mesti bersedih?

Langkah Keempat: Pahala yang Terus Mengalir
Di antara ke-maha-lembutan Allah dan rahmat-Nya, bahwa apabila Allah menutup satu pintu kebajikan bagi seseorang, pasti Allah akan membukakan banyak pintu kebajikan lain. Lebih dari sekedar pahala yang dituliskan bagi orang yang sakit sebagai balasan dari penyakit dan kesulitan yang dideritanya, Allah ternyata juga tidak menghalangi mereka mendapatkan pahala dari berbagai ibadah yang biasa mereka lakukan, meskipun mereka tidak sempurna melakukannya lagi karena mereka sedang sakit.
Dari Abu Musa Al-Asy’ari diriwayatkan bahwa ia menceritakan: Rasulullah r bersabda:
“Kalau seorang hamba sakit atau sedang bepergian, pasti Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia mengamalkan ibadah di masa masih sehat dan sedang bermukim.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari]
Kemuliaan apa lagi yang bisa didapatkan setelah kemuliaan yang Allah berikan ini? Keutamaan apa pula yang lebih luas dari keutamaan dari Allah yang mengkaruniai berbagai kenikmatan?
Saat sakit, seorang hamba beristirahat, namun Allah masih menuliskan pahala dari perbuatan yang diamalkannya di masa sehat..

Langkah Kelima: Sesudah Kesulitan, Pasti Datang Kemudahan
Itu adalah sunnatullah yang berlaku bagi para makhluk-Nya. Setiap kali Allah menciptakan kesulitan, pasti akan Allah ciptakan sesudahnya kemudahan. Bagaimanapun lamanya suatu penyakit dan bagaimanapun beratnya, masa-masa bercokolnya penyakit itu pasti akan berakhir juga. Saat-saat kesembuhannya pasti akan datang juga..

“Bisa saja beragam kesempitan membuat seorang hamba tertekan jiwanya, namun pasti ada jalan keluar dari sisi Allah yang akan ditemukannya

Mungkin saja saat-saat sempit kan datang jua, namun saat kesulitan telah membungkam jiwa, tiba-tiba terkuang jalan keluarnya, padahal sebelumnya ia mengira tak akan terbuka selamanya.”

Wahab bin Munabbih menyatakan: “Seseorang baru bisa dikatakan sebagai Ahli Fiqih sejati, sebelum ia menganggap cobaan itu sebagai kenikmatan dan menganggap kesenangan itu sebagai musibah. Karena orang yang terkena bencana pada hakikatnya sedang menanti kesenangan, sementara orang yang sedang bersenang-senang pada hakikatnya sedang menanti musibah..
Allah berfirman:
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Asy-Syarh : 5-6)

Langkah Keenam: Kekayaan Orang Sakit
Kalau orang sakit mau merenungi berbagai keuntungan dan kebaikan dari penyakitnya, niscaya ia tidak akan mengangankan kesembuhan dari penyakit tersebut..
Selain penyakit itu dapat menghapus dosa-dosa, mengangkat derajat dan menuliskan berbagai pahala amal shalih yang biasa dikerjakan waktu sehat, penyakit juga membuka kesempatan bagi orang yang mampu menggunakan waktunya..
Pada saat sakit, seseorang memiliki banyak waktu luang yang tidak bisa didapatkan dalam kondisi lain.
Maka, dengan pertolongan Allah, hendaknya kita menggunakan waktu-waktu kita dalam amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah, dengan membaca Al-Qur’an atau menghapalnya, menuntut ilmu, menambah shalat sunnah, melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar serta berdakwah mengajak ke jalan Allah..
Dengan kesembuhan dan keselamatan yang diberikan oleh Allah, kita harus menyadari, bahwa seorang muslim itu diperintahkan untuk mengikuti perintah Allah dalam keadaan sudah dan senang, dalam kondisi sehat dan sakit..

Langkah Ketujuh: Berbagai Kenikmatan Tersembunyi
Yang bisa menakar kenikmatan Allah hanyalah orang yang sudah kehilangan kenikmatan tersebut. Seolah-olah kini aku sedang berada di hadapan Anda saat Anda saat penyakit menggerogoti tubuh Anda, saat penyakit itu melenyapkan kebahagiaan Anda. Namun saat itulah Anda teringat sabda Nabi r:
“Ada dua kenikmatan yang sering terlupakan oleh banyak orang: nikmat sehat dan nikmat waktu senggang.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari]
Kesehatan termasuk nikmat terbesar yang dikaruniakan oleh Allah kepada kita. Namun kenikmatan itu hanya bisa ditakar oleh orang yang sedang sakit..
Selain itu, berapa banyak kenikmatan lain yang kita lupakan, dan berapa banyak kenikmatan yang lupa kita syukuri sebagai kewajibannya..
Di antara seluruh kenikmatan tersebut, yang terbesar dan paling agung nilainya adalah nikmat iman dan hidayah..
Namun betapa banyak umat manusia yang melupakan kenikmatan-kenikmatan terebut dan tidak sempat melakukan kewajiban untuk menyukurinya, atau tidak konsisten melakukan kewajiban tersebut..
Saat tanda-tanda kesembuhan mulai tampak dan kebahagiaanpun merekah katika cobaan mulai mereda, cobalah kita menghitung segala kenikmatan. Cobalah kita mengenal keutamaan dan kemuliaan Allah yang telah memberikan kenikmatan-kenikmatan tersebut. Coba kita merenungi kondisi kita saat kehilangan kenikmatan itu atau saat tidak bisa menikmatinya secara optimal. Segeralah kita melakukan taubat yang tulus terhadap keteledoran kita menyukuri nikmat-nikmat tersebut, terhadap kelengahan kita dalam menggunakan nikmat-nikmat itu di jalan yang diridhai oleh Allah sebagai pemilik segala karunia dan keutamaan.
Bahkan hendaknya kita bertaubat sekarang juga, ya, sekarang juga. Jadikanlah taubat ini sebagai jalan menghilangkan kesulitan yang kita hadapi dan menolak segala musibah yang kita derita..
Ali bin Abi Thalib menyatakan: “Setiap kali cobaan turun, pasti karena sebuah dosa. Dan setiap kali cobaan itu hilang, pasti karena taubat.”
Kalau penyakit kita tidak juga sembuh, kita tepat menjadi orang yang paling berbahagia dengan taubat tulus yang menutup hidup kita.

Langkah Kedelapan: Setiap Penyakit Ada Obatnya
Di antara rahmat Allah adalah bahwa bagaimanapun berat dan memayahkannya suatu penyakit, namun Allah hendak memberikan bagi seorang hamba, pasti si hamba akan diberi kemudahan mendapatkan obat yang mujarab dan penyembukan yang efektif..
Dari Abu Hurairah t diriwayatkan bahwa ia menceritakan: Rasulullah r bersabda:
“Setiap kali Allah menurunkan penyakit, pasti Allah akan menurunkan obatnya.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim]
Akan tetapi di samping taufiq dari Allah, kesembuhan itu harus memenuhi beberapa hal:
Di antaranya: Bertawakkal secara baik kepada Allah, berpulang kepada Allah dan bersangka baik terhadap-Nya:
Coba perhatikan kisah Nabi, kekasih Allah, mengetuk jiwa orang yang penuh keyakinan:
“Dan apabila aku sakit, maka Dia (Allah) akan memberikan kesembuhan..” (Asy-Syu’ara : 80)
Penyembuh sesungguhnya hanyalah Allah, yang menghilangkan bala bencaaaana hanyalah Allah semata..
Seorang ahli ruqyah atau pengobatan dengan ruqyah, dokter, obat-obatan dan berbagai sarana lain terkadang dijadikan jalan oleh Allah untuk mempermudah kesembuhan. Maka hendaknya kita menjadikan ketawakkalan kita kepada Allah, kebergantungan kita kepada-Nya untuk memperoleh kemenangan dengan kesehatan dan keselamatan di dunia, serta keselamatan dan kejayaan di akhirat kelak..
Kalau kita tertimpa musibah, hendainya kita percaya kepada Allah dan bersikap ridha terhadap-Nya.
Yang menghilangkan musibah hanyalah Allah, dan Allah itu Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana. Allah tidak akan melakukan sesuatu dengan sia-sia. Allah juga Maha Penyayang, kasih sayang-Nya amatlah beragam. Setiap kali Allah menetapkan takdir, pasti menjadi yang terbaik buat hamba-Nya. Rasulullah r bersabda:
“Mukmin itu sungguh ajaib!! Sesungguhnya apabila Allah Azza wa Jalla memutuskan suatu perkara, pasti akan menjadi kebaikan buat dirinya!!” [Diriwayatkan oleh Ahmad]
Syarat lain, melakukan pengobatan dengan ruqyah yang disyariatkan dari Kitabullah dan Sunnah Rasul.
Allah berfirman:
“Dan Kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman..” (Al-Israa : 82)
Dengan berkat kesembuhan yang akan Allah berikan, kita harus bertekad untuk meruqyah diri kita dengan menggunakan Al-Qur’an dan cara-cara yang tercantum dalam hadits-hadits nabi. Itu adalah kiat terbaik untuk menyembuhkan penyakit dan sekaligus menghilangkan musibah.
Contohnya dengan membaca surat Al-Faatihah, surat Al-Baqarah, surat Al-Ikhlas dan muawwidzatain (An-Naas dan Al-Falaq). Al-Qur’an sendiri, seluruhnya adalah obat dan rahmat.
Di antara bentuk doa dan dzikir yang disebutkan dalam hadits-hadits yang ada misalnya riwayat Aisyah –Radhiallahu ‘anha– bahwa dahulu apabila seseorang mengeluhkan sesuatu kepada Rasulullah r, atau bila orang tersebut terkena luka atau penyakit kulit, beliau akan melakukan sesuatu dengan jarinya –Sufyan bin Uyainah, salah seorang perawi hadits ini, (mencontohkannya dengan) meletakkan jarinya di atas tanah kemudian mengangkatnya kembali– sambil berkata:

بِسْمِ اللهِ, تُرْبَةُ أَرْضِنَا, بِرِيْقَةِ بَعْضِنَا, يُشْفَي بِهِ سَقِيْمُنَا بِإِذْنِ رَبِّنَا
“Bismillah, tanah yang berasal dari bumi kita, dengan siraman air sebagian di antara kita, dan menjadi obat bagi penyakit yang diderita sebagian kita, dengan ijin Allah Rabb kita.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim]
Masih dari Aisyah, diriwayatkan bahwa Nabi r pernah menjenguk salah seorang istrinya yang sedang sakit. Beliau mengusapkan tangan kanannya sambil mengucapkan:

“Ya Allah, Rabb sekalian manusia: Singkirkanlah penyakitnya, berikanlah kesembuhan. Sesungguhnya Engkau adalah Penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan dengan kehendak-Mu; kesembuhan yang tidak diiringi dengan panyakit lainnya.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim]
Dari Utsman bin Al-Aash diriwayatkan bahwa ia pernah mengeluhkan penyakitnya kepada Rasulullah r, yaitu penyaki di tubuhnya. Rasulullah r bersabda: “Letakkan tanganmu di bagian tubuhmu yang skit, lalu ucapkanlah:
“Bismillah, bismillah, bismillah. Lalu ucapkan kalimat berikut sebanyak tujuh kali:

أَعُوْذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَ أُحَاذِرُ

“Aku memohon perlindungan kepada Allah dengan kemuliaan dan kekuasaan-Nya, dari keburukan segala yang kudapatkan dan kukhawatirkan.” [Diriwayatkan oleh Muslim]
Dari Ibnu Abbas –Radhiallahu ‘anhuma– diriwayatkan bahwa Nabi r bersabda:
“Barangsiapa menjenguk orang sakit sebelum saat kematiannya, lalu mengucapkan doa berikut sebanyak tujuh kali, :
“Aku memohon kepada Allah yang Maha Agung, Rabb dari Arsy yang agung pula, agar memberikan kesembuhan kepadamu,” pasti Allah akan memberikan kesembuhan kepadanya dari penyakitnya tersebut.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi]
Dari Abu Said Al-Khudri t diriwayatkan bahwa Jibril pernah datang menjumpai Nabi r sambil bertanya: “Hai Muhammad, apakah engkau sedang sakit?” Beliau menjawab: “Ya.” Jibril berkata:

“Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala penyakit yang mengganggumu, dari kejahatan jiwa dan kejahatan kekuatan ‘ain dari orang yang hasad. Semoga Allah memberikan kesembuhan kepadamu. Dengan nama Allah, aku meruqyahmu.” {Diriwayatkan oleh Muslim]
Dari Ibnu Abbas –Radhiallahu ‘anhuma– diriwayatkan Nabi r apabila tertimpa kesusahan, biasanya mengucapkan:

“Tidak ada yang berhak diibadahi secara benar kecuali Allah, Yang Maha Lembut Lagi Maha Agung. Tidak ada yang berhak diibadahi secara benar kecuali Allah, Rabb dari Arsy yang agung. Tidak ada yang berhak diibadahi secara benar kecuali Allah, Rabb dari seluruh langit dan bumi dan Rabb dari Arsy yang mulia.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim]
Dari Saad bin Abi Waqqash t diriwayatkan bahwa ia menceritakan: Rasulullah r bersabda:
“Doa Dzun Nuun saat berada dalam perut ikan paus adalah sebagai berikut:

“Tidak ada yang berhak diibadahi secara benar melainkan Engkau, Maha Suci Engkau; sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.” Apabila seorang muslim mengucapkan doa tersebut dalam kesulitan apapun, pasti doanya itu akan dikabulkan.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi]

Akan tetapi seluruh doa dan ruqyah tersebut membutuhkan hati yang khusu, penuh ketundukkan lagi jujur, serta memiliki keyakinan yang tulus, bukan hanya dibaca berulang-ulang untuk sekedar mencoba-coba atau mengisi kekosongan saja.

Cara lain, yaitu berdoa.
Di samping seluruh doa-doda dan ruqyah yang telah disebutkan, sesungguhnya berdoa kepada Allah dan mengembalikan segalanya kepada Allah termasuk terapi terbaik. Bahkan doa adalah tujuan dan sasaran sesungguhnya saat seseorang tertimpa musibah.
Allah berfirman:
“kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri…” (Al-An’aam : 42)
Tidakkah terlintas di benak kita bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji kita dengan penyakit tertentu agar Allah mendengar suara kita saat berdoa kepada-Nya, agar Allah melihat kita saat kita memohon kepada-Nya dengan penuh harapan..
Cobalah kita menadahkan tangan dan menitikkan air mata kita, menampakkan kelemahan dan rasa kebutuhan kita kepada Allah. Cobalah kita mengakui semua itu dan mengakui segala kelemahan diri kita. Niscaya kita akan memperboleh keridhaan Allah dan diberi pertolongan dengan dihindarkan dari marabahaya.

Cara lain, memanfaatkan shalat.
Allah berfirman:
“Dan carilah pertolongan dengan kesabaran dan shalat..” (Al-Baqarah : 45)
Konon apabila Rasulullah r didera kesulitan oleh suatu permasalahan, beliau segera melakukan shalat.” [Diriwayatkan oleh Ahmad]

Cara lain, memperbanyak sedekah.
Dari Abu Umamah t diriwayatkan bahwa Nabi r bersabda:
“Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan bersedekah.” (Shahih Al-Jaami’]
Cara lain, berobat dengan berbagai cara pengobatan yang diakui keberadaannya.
Contohnya, mengkonsumsi madu, jintan hitam dan air Zamzam, atau menggunakan metoda bekam.
Cara lain, menggunakan obat-obatan yang dihalalkan oleh Allah.

Langkah Kesembilan: Hindari Langkah-langkah Syetan!
Karena syetan tidak pernah berhenti memantau seorang muslim saat ia sedang kuat atau sedang lemah. Oleh sebab itu, waspadalah terhadap langkah-langkah syetan. Di antaranya misalnya:

1. Berburuk Sangka Kepada Allah atau Merasa Kecewa dan Mendongkol Kepada-Nya.
Rasulullah r bersabda: Sesungguhnya Allah berfirman:
Aku hanya mengikuti persangkaan hamba-Ku saja. Kalau ia bersangka baik kepada-Ku, Akupun akan berbuat begitu. Kalau ia bersangkaburuk kepada-Ku, Akupun akan berbuat begitu terhadapnya.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Hibban] Yakni, apapun yang ada dalam prasangkanya terhadap-Ku, akan Kulakukan terhadapnya.

2. Menyebarluaskan Kabar Sakit dan Mengeluhkannya.
Cobalah kita menyimpan dan menyembunyikan kesedihan dan sakit kita. Jangan sampai kita menyebarluaskan beritanya dan memperbincangkan kepada banyak orang untuk menunjukkan kelulah dan ketidaksenangan, bukan sekedar memberitahu atau mengabarkan saja kepada orang lain.
Ma’ruf Al-Kurkhi menegaskan: “Sesungguhnya seringkali Allah menguji seorang hamba mukmin dengan penyakit dan kelaparan, lalu hamba tersebut mengadukan kepada teman-temannya. Maka Allah akan berfirman kepadanya: “Demi kemuliaan dan kehormatan-Ku! Sesungguhnya Aku mengujimu dengan berbagai penyakit dan rasa lapar ini, hanylah untuk membersihkan dirimu dari dosa-dosa. Oleh sebab itu, jangan mengakukan diri-Ku kepada orang banyak..”

3. Membuang-buang Waktu Untuk Pekerjaan Sia-sia, Seperti Mendengar, Melihat atau Melakukan yang Haram.

4. Tidak Memperhatikan Kewajiban Menutup Aurat.

5. Berobat dengan Yang Haram.
Rasulullah r bersabda:
“Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dengan obatnya, dan menciptakan obat untuk segala penyakit. Maka berobatlah, tetapi jangan menggunakan yang haram.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud]
Di antara perbuatan haram yang terberat (dalam berobat) adalah mendatangi dukun atau ahli sihir. Rasulullah r bersabda:
“Barangsiapa yang mendatangi paranormal, lalu mempercayai apa yang dia ucapkan, maka ia telah kafir terhadap ajaran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Hakim]
Itu adalah cara yang hina dan sia-sia di dunia, dan di akhirat nanti akan mencari kerugian dan kehinaan pula.
Apabila seorang hamba bersabar menahan beratnya penyakit tersebut dan rasa sakitnya yang hebat, itu lebih baik dariada ia menempuh cara yang akan menggiringnya ke Naar.

Langkah Kesepuluh: Hukum-hukum Saat Sedang Sakit
Pertama, Bersuci.
Orang yang sakit harus bersuci dengan menggunakan air dari berwudhu bila mengalami hadats kecil, dan juga mandi bila mengalami hadats besar. Kalau ia tidak mampu melakukannya karena lemah atau khawatir penyakitnya bertambah parah atau setidaknya memperlambat kesembuhannya, ia bisa bertayamum. Caranya adalah dengan menepukkan tangan di atas tanah yang suci atau debu sebanyak satu kali tepukkan, kemudian mengucapkannya ke bagian wajah dengan jari-jari bagian bagian dalam telapak tangan, dan mengusapkannya ke telapak tangan dengan bagian dalam telapak tangan (di bawah jari jemari).
Orang yang tidak mampu menggunakan air, kedudukannya sama dengan orang yang tidak bisa mendapatkan air untuk bersuci. Dasarnya adalah firman Allah:
“Dan berakwalah kepada Allah semampumu.” (At-Taghaabun : 16)
Kalau penyakitnya ringan, bila menggunakan air tidak akan membahayakannya, tidak khawatir menimbulkan penyakit lain, tidak memperlambat penyembuhan, tidak menambah parah penyakit dan tidak menimbulkan sesuatu yang berat seperti sakit kepala atau sakit gigi dan sejenisnya, atau masih bisa menggunakan air hangat tanpa membahayakan, maka dalam kondisi demikian tidak boleh tayammum.
Kalau seseorang tidak bisa bergarak dan tidak mendapatkan orang yang bisa mengambilkan air untuknya, ia juga boleh bertayammum. Kalau bertayammumpun tidak bisa, boleh meminta bantuan orang lain mentayammumkan dirinya.
Kalau orang sakit berada di suatu lokasi di mana ia tidak bisa mendapatkan air atau tanah, dan juga tidak mendapatkan orang yang mau membawakan kedua benda itu kepadanya, maka ia bisa shalat sesuai kondisinya.
Kalau badan sseorang, pakaian atau karpetnya terlumuri najis dan dia tidak bisa membersihkannya atau mensucikannya, ia juga oleh shalat dengan kondisinya tersebut tanpa perlu mengulangi shalatnya.
Seseorang tidak boleh menangguhkan shalat dari waktunya dalam kondisi apapun, karena tidak mampu bersuci, tidak mampu menghilangkan najis atau tidak bisa mendapatkan air atau tanah.
Orang yang terkena luka, terbakar, mengalami patah anggota tubuh, atau mengidap penyakit berbahaya bila terkena air, lalu ia berjunub, ia juga boleh bertayammum saja. Kalau ia mampu membasuh bagian tubuhnya yang masih sehat, ia wajib melakukannya dan sisa bagian tubuhnya boleh menggunakan tayammum.
Orang yang mengalami penyakit beser, atau pendarahan terus menerus, atau buang angin tak terkontrol, sementara proses penyembuhannya belum berhasil, ia harus berwudhu setiap kali datang waktu shalat, membersihkan bagian tubuh atau pakaiannya yang terkena najis, atau mengenakan pakaian bersih lain untuk shalat bila memungkinkan, setelah itu berupaya sebisa mungkin mencegah menyebarnya air seni atau darah di pakaiannya, di tubuhnya atau di sekitar tempat shalat. Sementara air seni yang keluar pada saat shalat, tidak apa-apa, bila keluarnya setelah berwudhu sesudah masuk waktu shalat.
Kalau seseorang menggunakan gipsum (pembalut tulang yang patah) yang diusahan untuk tidak terlepas, ia boleh mengusap bagian luarnya saja saat berwudhu atau mandi jinabat, sementara bagian anggota tubuh lain tetap dibasuh. Namun kalau membasih gipsum tersebut atau lokasi di sekitarnya juga bisa berbahaya, ia cukup bertayammum pada lokasi tersebut atau pada lokasi lain yang berbahaya bila dibasuh.
Tayammum menjadi batal disebabkan seluruh pembatal wudhu, atau dengan munculnya kemampuan menggunakan air (bagi yang beralasan tayammum karena sakit) dan mendapatkan air (bagi yang beralasan tidak adanya air). Wallahu A’lam.

Shalat
Para ulama telah bersepakat bahwa orang yang tidak bisa shalat sambil berdiri, ia bisa shalat sambil duduk. Kalau ia tidak mampu shalat sambil duduk, maka ia bisa shalat dengan berbaring miring dengan wajah tetap menghadap kiblat. Namun dianjurkan untuk berbaring ke sebelah kanan. Kalau shalat dengan berbaring miring juga tidak bisa, maka cukup dengan berbaring telentang.
Kalau seseorang mampu shalat berdiri, namun tidak mamu rukuk dan sujud, maka ia tetap wajib berdiri, lalu melakukan rukuk dengan isyarat, baru kemudian duduk dan melakukan sujud dengan isyarat.
Kalau seseorang terserang penyakit di bagian matanya, lalu kalangan ahli medis menegaskan: “Bila Anda shalat dengan berbaring telantang, Anda bisa disembuhkan. Namun kalau tidak, maka tidak bisa disembuhkan. Maka orang tersebut boleh shalat dengan berbaring telentang.
Orang yang tidak bisa rukuk dan sujud, boleh melakukan keduanya dengan isyarat, dan menjadikan sujudnya lebih rendah dari rukuknya. Kalau tidak bisa sujud saja, ia harus melakukan rukuk, baru melakukan sujud dengan isyarat.
Kalau seseorang tidak bisa membungkukkan punggungnya, cukup ia menundukkan lehernya saja. Kalau seseorang memiliki punggung udang (bongkok) sehingga bila ia berdiri saja sudah seperti rukuk, maka apabila ia rukuk ia harus lebih membungkukkan lagi sedikit, lalu ketika bersujud lebih mendekatkan lagi kepalanya ke tanah. Itu dilakukan sebatas kemampuan.
Kalau seseorang tidak bisa juga melakukan shalat dengan isyarat, maka cukup dengan niat dan ucapannya saja.
Kalau orang yang sakit secara tiba-tiba dalam shalat membaik, lalu bisa melakukan seluruh gerakan yang sebelumnya tidak bisa dilakukan, seperti berdiri, duduk, rukuk, sujud atau sekedar memberi isyarat, ia harus beralih ke cara normal untuk sisa shalatnya.
Kalau seseorang ketiduran sehingga ketinggalan shalat atau kelupaan shalat, ia wajib melakukan shalat itu bila ia sudah terbangun atau teringat.
Seseorang tidak boleh meninggalkan shalat dalam kondisi apapun. Bahkan ia harus berusaha melakukan shalat pada saat ia sakit lebih daripada saat ia sedang sehat. Ia tidak boleh meninggalkan shalat wajib hingga berakhir waktunya, meskipun ia sakit, selama akalnya masih sehat. Ia tetap harus menunaikan shalat pada waktunya sebatas kemampuan yang ada. Kalau seseorang meninggalkan shalat dengan sengaja, sementara ia masih berakal sehat, aqil baligh dan mampu melakukan shalat atau setidaknya dengan isyarat, maka ia berdosa. Bahkan sebagian di antara ulama ada menyatakan orang tersebut kafir. Dan memang itulah pendapat yang benar.
Kalau seseorang merasa kesulitan melakukan shalat pada waktunya, maka ia bisa menjamak shalat antara shalat Zhuhur dengan Ashar, serta antara shalat Maghrib dengan Isya, baik dengan cara jamak taqdiem atau jamak ta-tkhier, sebatas kemampuan. Wallahu A’lam.

Shaum
Orang sakit memiliki tiga kondisi dalam melakukan shaum:
a. Bila penyakitnya tidak memberatkan si sakit namun tidak membahayakan jika ia melakukan shaum. Dalam kondisi demikian, ia wajib melakukan shaum.
b. Si sakit kesulitan melakukan shaum. Dalam kondisi demikian, shaum baginya dihukumi makruh.
c. Apabila shaum membahayakan si sakit, maka ia haram melakukan shaum tersebut.

Kalau seserang tidak bisa meng-qadha shaumnya karena ia mengalami sakit yang tidak bisa diharapkan sembuh, maka ia harus memberikan makan fakir miskin setiap harinya. Namun kalau ia masih mungkin untuk mengganti shaumnya, maka ia harus melakukan shaum sejumlah hari yang ditinggalkannya karena sakit.
Shaumnya batal bila ia melakukan segala sesuatu yang bisa disetarakan dengan makan minum, seperti menyuntikkan jarum infus, mentranfusikan darah ke dalam tubuh dan sejenisnya. Adapun suntikan biasa yang tidak memberikan masukan gizi ke dalam tubuh, sama sekali tidak membatalkan shaum, baik itu digunakan pada otot atau jalan darah. Baik terdeteksi rasanya di tenggorokan ataupun tidak.
Shaum juga batal –menurut pendapat yang benar– bila seseorang dibekam atau melakukan hal sejenis itu. Adapun darah yang keluar sendiri seperti darah mimisan (Apitaksis), atau darah yang keluar saat gigi dicabut dan sejenisnya, tidaklah membatalkan shaum.
Muntah, bila disengaja, membatalkan shaum. Kalau tidak disengaja, tidak membatalkan shaum.
Orang yang sedang shaum boleh mencabut gigi, mengobati luka, meneteskan obat mata atau obat telinga, atau memasukkan gas ke dalam kerongkongan melalui mulut untuk meringankan gejala asma. Ia tidak perlu membatalkan shaum karena semua perbuatan tersebut. Wallahu A’lam.

Saudaraku yang sedang sakit!
شَفَي الله سَقَمَكَ وَعَظَّمَ أَجْرَكَ وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَرَزَقََكَ اْلعَافِيَةَ فِي دِيْنِكَ وَبَدَنِكَ
Semoga Allah menyembuhkan penyakitmu, memperbanyak pahala bagimu, mengampuni dosa-dosamu, dan memberikan kepadamu karunia keselamatan pada tubuhmu dan juga dalam agamamu…

Naskah ini diambil dari buku

“Berbahagialah Wahai Orang Sakit” – Pustaka At-Tibyan
.
Atas izin tertulis dari penerbit.
Informasi lebih lanjut silakan hubungi penerbit, Pustaka At-Tibyan.

Pustaka At-Tibyan

Copyright – Pustaka At-Tibyan – 2008 | www.at-tibyan.com | info@at-tibyan.com | customer service sms : 0817.251.331

14 thoughts on “Hadiah Untuk Anda

  1. saya link web dokter ya.
    sekalian juga minta ijin untuk mengutip atau mengopi tulisan anda, saya berjanji akan mencantumkan sumbernya.
    Terimakasih sangat bila diijinkan :)

  2. @Indah
    Silakan :) Senang bisa membantu. Naskah “hadiah bagi anda yang sakit” itu saya dapatkan dari penerbit At-Tibyan, dengan izin tertulis, dengan catatan harus mencantumkan link ke penerbit. Sudah saya update barusan.

  3. Assalamualaikum Dok
    Salam kenal, saya menunggu update dari dokter mengenai kebenaran haram atau halalnya imunisasi yang terbaru.
    serta informasi2 ain mengenai pengobatan ala Nabi.

  4. Jazaakumullah pak Arief…maka berbahagialah orang yang sakit setelah membaca notes ini…sukses dunia akhirat bro….

  5. Assalamualaikum Dokter, terimakasih atas tulisan-tulisannya yang sangat mencerahkan. Insyallah saya minggu depan akan mengecek kesehatan dengan kolonoskopi. Saya akan kembalikan semuanya kepada Allah.

  6. Alhamdulillah. Informasi Dokter sangat berharga sekali dan membantu saya untuk lebih bersabar terhadap cobaan yang sedang menimpa kakak ipar saya. Tadi pagi jam 8-10.45 operasinya telah dilakukan , dan tumornya telah berhasil diangkat sebesar telapak tangan. Kami sekeluarga selalu memohon kekuatan dari Allah SWT. Semoga Allah ampuni segala dosa-dosanya. Terimakasih Dokter Arief.

  7. Alhamdulillah, semoga operasinya berhasil dengan baik, dan apa pun yang terjadi itu adalah ketetapan dari Allah SWT yang harus kita terima dengan lapang dada.

  8. Bismillahirrahmanirrahim..
    makasih dokter atas pencerahannya…
    izin share yah dokter arief…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *