Fatwa ulama tentang imunisasi…

HUKUM IMUNISASI DALAM ISLAM

Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz

Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz ditanya : Bagaimana hukum berobat dengan imunisasi (mencegah sebelum tertimpa musibah) ?

Jawaban

La ba’sa (tidak masalah) berobat dengan cara seperti itu jika dikhawatirkan tertimpa penyakit karena adanya wabah atau sebab-sebab lainnya. Juga tidak masalah untuk menggunakan obat untuk menolak atau menghindari wabah yang dikhawatirkan.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih, artinya : “Barangsiapa makan tujuh butir kurma Madinah pada pagi hari, ia tidak akan terkena pengaruh buruk sihir atau racun”. Ini termasuk tindakan menghindari penyakit sebelum terjadi. Demikian juga jika dikhawatirkan timbulnya suatu penyakit dan dilakukan immunisasi untuk melawan penyakit yang muncul di suatu tempat atau di mana saja, maka hal itu tidak masalah, karena hal itu termasuk tindakan pencegahan. Sebagaimana penyakit yang datang diobati, demikian juga penyakit yang dikhawatirkan kemunculannya.

Tapi tidak boleh berobat dengan menggunakan jimat-jimat untuk menghindari penyakit, jin atau pengaruh mata yang jahat. Karena Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari perbuatan itu. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menjelaskan bahwa hal itu termasuk syirik kecil, sehingga sudah kewajiban kita untuk harus menghindarinya.

[Fatawa Syaikh Abdullah bin Baaz**. Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun X/1427/2006M. Dikutip dari kitab Al-Fatawa Al-Muta’alliqah bi Ath-Thibbi wa Ahkami Al-Mardha, hal. 203. Darul Muayyad, Riyadh]

*Komentar saya pribadi :
Imunisasi dalam sudut pandang Islam pada dasarnya dibolehkan, berdasarkan fatwa di atas. Dasar imunisasi pada anak adalah untuk menghindari wabah, contohnya TBC – yang Indonesia adalah salah satu peringkat tertinggi di dunia – dan penyakit-penyakit terpilih lainnya yang berpotensi (dapat) mengakibatkan  kecacatan atau kematian.
Fatwa ini menyatakan konsep dasar tindakannya, dan sangat berbeda dengan konteks bagaimana cara manusia melakukannya. Bila dilakukan tidak sesuai dengan prosedur (pembuatan, penyimpanan, pemberian, penyuntikan, dll) sehingga menimbulkan efek lain maka ini adalah kasus pembahasan yang berbeda dari fatwa di atas. Fatwa di atas hanya menyatakan dasar tindakan pemberian imunisasi secara umum adalah boleh. Sedangkan bila diberikan dengan cara yang salah dan menimbulkan efek-efek negatif (gagal, timbul alergi, timbul efek samping, dll.) maka itu adalah suatu kesalahan prosedural, dan tidak ada hubungan dengan fatwa yang membolehkan tersebut.

Wallahu a’lam.

** Syaikh Abdullah bin Baaz adalah seorang ulama besar kelas dunia, biografi selengkapnya dapat diperoleh melalui situs www.an-naba.com (by request – saya pernah mendapatkan biografinya melalui email).

Baca lebih lengkap di sini

6 thoughts on “Fatwa ulama tentang imunisasi…

  1. Alhamdulillah… sangat mencerahkan informasinya. Saya sangat membutuhkan informasi ini kelak untuk menambah data-data saya. Jazakumullah khoyron katsir.

  2. Maaf Dok, bagaimana dengan vaksin yang dibuat dengan media yang berasal dari babi? Apakah semua vaksin dibuat dengan cara demikian? Bagaimana dengan vaksin tetanus yang diwajibkan oleh pemerintah bagi calon ibu? Jazakallah khair.

  3. @ Ummu ‘Aisyah,
    Saya mengutip ucapan beberapa ustadz terkait hal ini, kejelasan kandungan yang berasal dari bahan yang haram juga tidak ditunjang dengan data yang pasti. Referensi syariah saya dalam hal ini adalah ustadz Abu Zubair Hawaary, dan ustadz Sufyan Baswedan, keduanya adalah alumni Madinah, insya Allah bisa dipegang fatwanya.

  4. Pingback: Fatwa Imunisasi Syaikh Bin Baz « Tarbiyatul Abna

Comments are closed.