Diabetes Melitus ? Apa sih ?

DM atau diabetes melitus di Indonesia lebih populer dengan sebutan “kencing manis”. Penyakit ini diam-diam sempat menduduki peringkat 5 besar penyakit kelas dunia. Ini bukanlah suatu prestasi yang layak dibanggakan lho… Jenis peyakit ini ada 2 macam, yaitu jenis yang tergantung pada insuin, disebut juga insulin dependent DM dan jenis yang tidak tergantung insulin atau disebut juga non-insulin dependent DM. Sebenarnya jenis lainnya juga ada, namun tidak saya jabarkan di sini.

Bila Anda adalah seorang penderita baru penyakit ini, mungkin Anda akan bertanya-tanya apa dan bagaimana kelanjutan terapinya, akankah menjadi sembuh total seperti sediakala, atau hidup normal kembali suatu saat. Langsung saja kita bahas di sini.

Sebelum kita bahas gejalanya, ada berita bagus buat Anda, barangkali bisa sedikit menghibur : Anda bukanlah satu-satunya orang yang menderita DM. :) jadi jangan panik.

Bagaimana Terjadinya ?

Pada orang normal, kira-kira 50% dari jumlah insulin yang diproduksi tubuh dikeluarkan pada saat tubuh beristirahat. Ketika terjadi orang tersebut makan, tubuhnya dengan segera akan merespon dengan mengeluarkan insulin tambahan, yang proses ini disebut sebagai pengeluaran insulin fase 1. Keluarnya insulin ini membantu mengoptimalkan penggunaan nutrisi pada jaringan-jaringan tubuh, menekan produksi gula oleh hati, dan membatasi naiknya kadar gula setelah makan. Fase 2 keluarnya insulin segera menyusul setelahnya, dan terus dikeluarkan sampai kadar gula darah normal kembali.

Pada penyakit Diabetes tipe 2, terjadi gangguan yang progresif antara pengeluaran insulin dan efeknya. Respon insulin fase 1 pada penderita berkurang secara signifikan, sehingga kadar gula – segera setelah – setelah makan akan naik secara bermakna. Akibatnya penggunaan gula oleh jaringan tubuh pun akan terganggu sehingga jaringan tubuh akan kekurangan zat gula. Hal ini akan memacu hati untuk mengeluarkan gula lebih banyak lagi, sehingga memperburuk keadaan.

Perlu diketahui bahwa sumber tenaga bagi tubuh 2 macam, yaitu oksigen dan gula. Oksigen diperankan terutama oleh paru, sehingga orang yang bermasalah dengan paru-parunya (batuk lama, sesak napas, tbc, dll) bisa dipastikan energi dalam tubuhnya tidak baik. Sedangkan gula adalah makanan bagi organ-organ tubuh kita untuk beraktivitas. Lalu timbul pertanyaan, bukankah dengan lebih banyak gula dalam tubuh berarti lebih banyak energi ? Analoginya adalah sebagai berikut. Kita misalkan tubuh kita adalah mesin yang memiliki komponen energi utama bensin dan api dari busi; sementara organ-organ lainnya adalah piston, selang, dan sebagainya. Pembakaran dalam mesin hanya akan jalan kalau dua syarat terpenuhi : ada bensin, dan ada api. Mobil tidak akan bisa jalan kalau tidak ada bensinnya, atau tidak ada businya. Di lain sisi, kebanyakan bensin di ruang pembakaran mesin juga tidak akan membuatnya berjalan dengan smooth. Tingginya kadar gula dalam aliran tubuh bisa diibaratkan ruangan mesin kebanyakan bensin sehingga “kebanjiran”. Mobil hanya bisa bergerak dengan kencang dengan mengangkat bobot ber ton-ton bila bensin dalam ruang pembakaran dalam jumlah yang pas. Apa yang terjadi bila jumlah bahan bakar berlebihan di dalam ruang pembakaran ? Pada mobil akan meletup-letup, terbatuk-batuk, atau bahkan tidak bisa di start. Hal yang sama terjadi pada tubuh manusia bila “kebanjiran” kadar gula pada organ yang seharusnya menggunakannya sebagai bahan bakar, maka gula tersebut tidak akan bisa dipakai. Keadaan kelebihan gula darah yang berkelanjutan akan menyebabkan perlambatan aliran darah karena konsentrasi dan viskositas darah yang meningkat. Keadaan ini (bila berkepanjangan) akan menimbulkan kerusakan beberapa organ vital seperti ginjal, jantung, otak dan retina pada mata. Kerusakan pada ginjal akan menimbulkan gangguan fungsi ginjal hingga akhirnya gagal ginjal; penyumbatan pembuluh darah koroner jantung dan menyebabkan penyakit jantung koroner; penyumbatan pembuluh darah otak yang bisa menyebabkan stroke; dan penyumbatan pembuluh darah pada organ mata dapat mengakibatkan kebutaan. Itu semua adalah sederetan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita diabetes. Perlu dicatat, bukan hanya itu saja, masih ada yang lainnya lagi.

Apa Penyebabnya ?

Diabetes Tipe 1 diyakini sebagai suatu penyakit autoimun. Artinya, sistem imunitas tubuh menyerang sel-sel pankreas yang menghasilkan insulin, sehingga rusak. Penyebab lainnya antara lain :

  • Faktor lingkungan luar, seperti infeksi virus
  • Faktor ras, paling sering terjadi pada ras non-hispanic keturunan eropa utara, diikuti oleh afrika, amerika, dan paling jarang adalah asia.
  • Lebih banyak pada laki-laki dari pada wanita.

Sedangkan Diabetes tipe 2 diyakini terkait dengan sistem genetis, yang artinya cenderung untuk diturunkan dalam satu garis keluarga. Sengaja saya beri garis bawah karena hal ini tidak selalu terjadi, sehingga disebut “cenderung”. Faktor lain yang turut berkontribusi adalah :

  • Tekanan darah tinggi
  • Kadar lemak darah yang tinggi
  • Sejarah melahirkan anak yang besar (4,5 kg atau lebih)
  • Kebiasaan konsumsi makanan berlemak tinggi
  • Konsumsi alkohol
  • Gaya hidup yang kurang aktif (lebih banyak duduk, jarang olah raga, dll)
  • Kegemukan
  • Faktor usia tua – resiko terkena penyakit diabetes tipe 2 meningkat dengan penuaan, para ahli sepakat mulai usia 45 tahun ke atas.
  • Dan terakhir ras etnis tertentu seperti asia

…To be continued insya Allah…

One thought on “Diabetes Melitus ? Apa sih ?

Comments are closed.